Aceh Ekonomi FEATURE Trivia

1st Anniversary Sagobi, Enterprenuer Muda Geurugok di Emperan Eks Kota Petro

0Shares

Selama dua bulan lebih mereka memakan sisa nasi dan sate yang tak habis laku terjual, sesekali membaginya dengan pemilik warung kopi tempat mereka berjualan. Merugi, sudah pasti, namun bukan itu fokus keduanya. Bagaimana caranya usaha yang dicitakan maju dan bertahan, itu adalah sebuah harapan bagi dua Pemuda asal Geurugok ini.

ANews– Ansharuddin (28) pemuda asal Paloh Me kecamatan Gandapura tak mengira nasib akan membawanya berada di kota eks petro, lulusan S1 PGSD di salah satu perguruan swasta di kabupaten Bireuen ini adalah salah satu Enterpreneur muda yang berhasil membangun serta mempertahankan cita rasa kuliner kampung halamannya di Kota Lhokseumawe.

Sate Geurugok Bireuen adalah brand kuliner yang sudah meu-Aceh selama satu periode ini, berangkat dari ilmu kuliner dan pengalaman di kampung halaman, Nyak Din nama familiar pemuda berperawakan sedang itu nekad mencari peruntungan di kota lain dengan keahlian yang mulai dipelajarinya semenjak usai selesai bangku kuliah beberapa tahun silam.

“Selain modal, memulai usaha dibutuhkan keyakinan kuat, juga dibarengi kerja keras dan fokus pada tujuan akhir, itu adalah kunci sukses yang saya pelajari dari guru dan orang tua saya Bapak Ir Muhammmad Yusuf (Salah seorang anggota Dewan di kabupaten Bireuen,red)” ujar Nyak Din di awal Dia bercerita saat kedatangannya mencari peruntungan ke kota Lhokseumawe waktu itu.

Bagi Nyak Din, Sagobi adalah sebuah cita-cita dan usaha yang tak pernah mengkhianati hasil, gerai Sate Geurugok Bireuen yang terletak di jalan Medan-Banda Aceh, tepatnya di Gampong Meunasah Mee Kandang, Muara Dua, Kota Lhokseumawe telah menjadi bukti nyata kerja kerasnya dan kawan-kawan.

Membawa Sagobi dari kampung halaman hingga menjadi salah satu pusat kuliner yang kini dikenal awalnya tidaklah mudah, selain juga mengalami berbagai pahit getir dalam merintis usaha tersebut.

Gerai Sate Gerugok Bireuen yang terletak di Meunasah Mee Kandang, Muara Dua, Kota Lhokseumawe, Foto: Marechausee/ANews.

Lebih dari tiga ratus enam puluh lima hari yang lalu, Nyak Din dan Anwar sejawatnya dari kampung mencari lokasi ke berbagai kawasan di kota Lhokseumawe, tujuannya adalah untuk memulai usaha yang sudah dibidanginya sejak awal. Bahkan lebih jauh mereka terlebih dulu mencoba ke ibukota Banda Aceh untuk mencari kawasan yang cocok berjualan kuliner Sate.

“Berjualan Sate Geurugok tidak sulit, kita hanya membutuhkan lapak yang strategis, tidak perlu menyewa toko, emperan kaki lima adalah tempanya rak Sate. Ini salah satu kemudahnnya, jadi tugas awal kita adalah mencari kawasan strategis dan central. Bila sudah cocok dan berkenan di hati, ya disitulah lokasinya” menurut Nyak Din.

Tampak para karyawan Sagobi sedang sibuk mempersiapkan hidangan pelanggan, Foto: Marechausee/ANews

Sate adalah salah satu kuliner yang membutuhkan lokasi transit area, tidak cocok menurutnya bila Dia memulai usaha tersebut di Ibukota Banda Aceh setelah beberapa hari mencari lokasi di sana. Akhirnya mereka kembali ke kampung dan memutuskan untuk mencoba datang ke kota eks Petro, Lhokseumawe.

Sebuah warung kopi sederhana “Meukenong bak Hatee”, lokasi parkir yang memadai, ruang yang cukup nyaman bagi pengunjung dan juga berada di sisi utara jalan Medan-Banda Aceh, jadikan lokasi itu sesuai apa yang diharapkan olehnya–transit area.

“Pertama melihat warung ini langsung mengena di hati saya saat itu, Anwar juga begitu, Dia yang sebenarnya lebih bergairah sekali untuk memulai usaha disini. Setelah kami berkeliling ke belakang melihat lokasi digunakan untuk memasak Nasi, Meracik Bumbu, serta memasak kuah Soto, cocok sudah dan sesuai harapan” kata Dia.

Cita rasa khas Sate Geurugok Bireuen menembus batas Kota asalnya, Geurugok. Foto: Marechausee/ANews

Setelah menemukan kecocokan dengan lokasi untuk memulai usaha, Nyak Din dan Anwar disupport penuh secara finasial oleh seorang Anggota Dewan dari kabupaten Bireuen, Beliau guru yang sekaligus orang tua bagi mereka, Bapak Ir. Muhammad Yusuf. Bak gayung bersambut, tanpa butuh waktu lama, modal memulai usaha kuliner yang dicita-citakan Nyak Din dan Anwar diberikan.

“Bapak dari awal memang sudah mensupport kami, kita ingin maju dan mampu mandiri. Bekerja pada orang lain bukan tidak baik, namun jika kita mampu membangunnya sendiri dan juga punya cita-cita besar kenapa kita harus ragu. Motivasi dari Bapak yang selalu menyemangati kami untuk maju saat itu” ceritanya.

Memulai usaha kuliner sate dengan bahan baku tiga kilogram daging sapi adalah hal terberat yang dijalani Nyak Din dan Anwar di awal mula. Bukan karena kekurangan modal, namun tak ingin terbuang bila tak laku–mengingat usaha kuliner bukanlah dapat mendaur ulang sisa makanan yang tak habis– apalagi bila ingin membangun serta pertahankan cita rasa di lidah pengunjung.

Usaha tak kan pernah khianati hasil, Sagobi mulai mendapatkan tempat di eks Kota Petro. Foto: Marechausee/ANews

Selama dua bulan lebih mereka memakan sisa nasi dan sate yang tak habis laku terjual, sesekali membaginya dengan pemilik warung kopi tempat mereka berjualan. Merugi, sudah pasti, namun bukan itu fokus keduanya. Bagaimana caranya usaha yang dicitakan maju dan bertahan, itu adalah sebuah harapan bagi dua Pemuda asal Geurugok ini.

Memasuki fase akhir di awal membangun usaha kuliner–tiga bulan pertama–Nyak Din dan Anwar mulai sedikit lebih bersemangat, daging sapi sebagai bahan baku utama sudah mulai habis delapan kilogram per harinya. Setidaknya, mereka tak lagi harus bersusah payah memikirkan kemana sisa makanan yang tak habis laku dijual, bilapun dimakan sudah berlebih, dibuang sayang.

Semenjak saat itu Nyak Din mulai sumringah, berbagai kalangan mulai singgah mencoba serta juga menjadi langganan tetapnya. Beberapa Direksi perusahaan bahkan terlebih dulu memboking bila ingin berkunjung. Nyak Din dan Anwar mulai mendapatkan langganan partai besar di bekas kota minyak itu.

Kini Sagobi telah menjadi salah satu pusat kuliner Sate di Lhokseumawe. Foto: Marechausee/ANews

“Saat mulai laku dengan takaran daging delapan hingga sepuluh kilogram saya senang sekali, si Anwar parah lagi, Dia bahkan tak bisa tidur nyenyak untuk beberapa malam. Koki semakin yakin bumbu racikan tangannya mulai dan sudah mendapatkan tempat bagi pengunjung” cerita Nya Din lagi.

Kurun waktu sembilan bulan Sate Gerugok Bireuen mulai terus dipadati pengunjung, bukan hanya saja warga kota Lhokseumawe, lokasinya yang transit area menjadikan Sagobi sebagai salah satu gerai sate yang musti disinggahi, rasa sudah menyatu, pelangganpun sudah tahu yang ia mau.

1st Anniversary Sagobi, Enterprenuer muda Geurugok di emperan eks kota Petro. Foto: Marechausee

Dulunya, penikmat kuliner sate di kota pesisir utara ini harus berpergian ke kabupaten tetangga (Bireuen) untuk sekedar menikmati makanan khas Aceh itu. Namun kini dengan kehadiran gerai Sate Geurugok Bireuen di kota Lhokseumawe, tidak perlu lagi menyisihkan finansial untuk premium dan berpergian ke kota kuliner khas ini berasal, setidaknya.

Hari ini, genap sudah satu tahun usia Sagobi dalam memulai usaha serta mempertahankannya, cita rasa khas kuliner itu di kota Lhokseumawe. Enterpreneur muda Geurugok di emperan kaki lima itu telah mampu habiskan bahan baku tiga puluh hingga lima puluh kilogram daging sapi. Benar sudah cita yang ingin digapai, Sate Geurugoek Bireuen telah dan akan terus membumi di eks kota Petro, semoga![]

0Shares