Aceh AKALSEHAT OPINI Sosial Budaya

Aceh Dalam Bahaya; Pemuda vs Candu, Akibat Pengangguran Intelektual Merajalela

0Shares

Oleh Adam Zainal*

Pada abad ke 21, zaman sudah memasuki era globalisasi, dimana semua alat komunikasi, tekhnologi sudah banyak yang canggih, dengan kecanggihannya mampu melewati batas negara bahkan benua. Namun di belahan bumi yang lain, terutama di kawasan Aceh Darussalam, Indonesia–sedang terjadi revolusi besar-besaran, disamping tiada kesadaran kita semua dalam menghadapi revolusi candu (perang candu). Kita larut dalam menuntut kebebasan hidup, dalam damai dan sejahtera, hingga berujung pada perang antara rakyat dengan penguasa (pemerintah). Padahal, kita Aceh, juga Indonesia pada umum sedang dalam kondisi kritis perang candu (perang dengan technologi, narkotika, dan industri).

Dimana peperangan tersebut banyak melibatkan pemuda, kenapa lebih banyak pemuda? Karena usia pemuda adalah usia yang paling produktif dan aktif dengan semangat Idealisme yang kental, pemuda yang kuat fisiknya, punya semangat tinggi, mudah diarahkan (dipengaruhi). Di-akui atau tidak, rakyat kita adalah tipikal manusia yang giat mencoba-coba (memyimpan sikap latah dalam memcoba hal-hal baru, tanpa melihat efek dan manfaatnya), maka tak heran, jika bangsa kita larut dalam keteledoran yang dinina-bobokkan melalui perang candu itu sendiri.

Kondisi tersebut rentan menyindap pada sebahagian pemuda khususnya, Aceh dan Indonesia pada umumnya. Namun bagaimana dengan kondisi pemuda di Nanggroe Aceh zaman sekarang? Pemuda Aceh dalam sejarahnya dikisahkan sebagai pejuang bangsa, pegusung Reformasi, yang menasbih dirinya dalam menuntut kebebasan dan kemerdekaan dari Pemerintah (Pusat) Indonesia. Namun, ideologi itu kini sudah kandas, hilang dalam metafora tekhnologi dan perang candu, disamping hanyut dalam buai-an para pemangku jawatan atas kesejahteraan sesuai dengan poin damai di Helsinki. Bahkan, pada dasarnya, “Ide Perjuangan nyan akan lahe wate pruet tingoh deuk,” (Ide Perjaungan itu akan lahir ketika perut sedang lapar).

Artinya; “ide kemerdekaan itu akan digaungkan ketika bilangan perut sedang lapar. Bilamana sebuah perut sudah kenyang, nasionalism dan ideologi itu akan dikubur dalam-dalam.”

Dan sebahagian pemuda yang sudah dirasuki ideologi tersebut akan hidup dalam kamuflase harapan dan angan-angan yang saban hari digelorakan oleh para pemilik tujuan, dan mafia perang. Padahal, pada hakikatnya, tiada satupun manusia yang ingin berperang, semua cinta pada kedamaian. Hari ini, pemuda harus mencari solusi, mampu berdikari, juga harus pandai dalam menyesuaikan diri dengan zaman dan segenap kondisinya. Kita tidak sedang menggerakan sebuah revolusi untuk melupakan sejarah silam yang pernah melanda Nanggroe ini. Kita mengajak para generasi untuk bisa belajar dan memahami sejarah dengan baik, supaya mereka tidak menjadi tumbal dalam hasrat para penyamun.

Kita tahu, sejarah hanyalah kenangan semata, ia akan hilang ditelan masa bilamana kita membiarkannya terkoyak-koyak, acuh tak acuh, juga membiarkan sejarah tersebut sendiri tanpa dipugar. Tugas kita sebagai generasi adalah menjaga, memugar, merawatnya dengan sepenuh hati. Jangan hanya menganggap sejarah sebagai sebuah cerita lama yang tak penting, sebab kita tak pernah hadir di situ! Orang yang mampu memanusiakan manusia, ialah mereka yang sukarela menjaga sejarah bangsanya. Barangkali di suatu sisi sejarah dianggap sebagai hal yang kuno, kolot, dan sebagainya oleh sekelompok generasi unyu-unyu yang sekarang hidup berkembang dengan embel-embel primitif dan Norak, bilamana jika mereka menapaki sejarah, bahkan kerap terdengar jargon-jargon rasis yang mereka lontarkan kepada kelompok pegiat sejarah “that meu-jameun lago kah?” (Kuno sekali kamu itu?).

Hampir tak mungkin pemuda Aceh di zaman sekarang tidak sama seperti pemuda dalam sejarah Aceh dahulu, kenapa? Karena pemuda zaman sekarang sudah banyak terlahir sebagai pemuda akhir zaman yang sudah menganut bermacam-macam faham dan larut dalam analisa buta, (buntu) dan Fanatik akan hal-hal yang tidak berguna serta tidak bertujuan positif untuk kemajuan suatu Negeri.

Ada sebahagian yang berpendapat bahwa pemuda Aceh mempunyai Potensi dan daya pikir yang kuat, peran pemuda dalam menyuarakan kemerdekaan dan menuntut memisahkan diri dari Jakarta (Pusat), sampai kini masih di suarakan. Bahkan, untuk mengibarkan selembar bendera Aceh Bulan Bintang. Namun, lagi-lagi isu ini bagaikan menjadi arasemen musiman para pemilik hajat, dan pemuda dipengaruhi dalam menuntaskan kaoy juga tujaan mereka yang ingin mengisi jabatan publik. Jikapun Lambang dan Bendera Aceh sudah sah secara hukum, tetapi setidaknya kita harus jeli dalam membaca situasi dan kondisi Aceh saat ini. Sedangkan mereka yang punya kuasa seperti acuh tak acuh dengan persoalan Aceh, mereka seakan lupa pada jalan pulang, juga lupa pada koridornya ketika berada di kursi empuk jabatan.

Akhir-akhir ini isu tersebut tak lagi buming, kini isu tentang Aceh sedang hening bak di telan bumi, sebab acara hajatan (pemilu) sudah usai, janji tinggal janji, sumpah tinggal sumpah, ideologi tinggal ideologi, kompensasi tinggal kompensasi. Semuanya ditinggalkan, bahkan isu Penista agama, PKI sekalipun semacam sudah dikuburkan, dan yang lebih absurdnya isu dan pertikaian para cebong dan kampretpun mulai berkeseduhan. Tinggallah rakyat, yang dulu bertikai kini tak lagi saling menyapa.

Pemilu sudah berlalu, laut sudah surut. Barangkali prahara telah pergi. Namun, isu referendum sempat mencuat, disuarakan oleh orang terpengaruh di Aceh beberapa bulan yang lallu. Dikalangan masyarakat Aceh khususnya kaum pemuda, isu tersebut menuai pro dan kontra. Bahkan isu terhadap referendum dituding sebagai kepentingan pribadi (Individu) juga kekecewaan terhadap hasil pemilu. Hal itu tidak dapat dipungkiri, karena selama ini masyarakat dan pemuda menganggap Pemerintah Aceh gagal dalam menyelesaikan perkara Aceh selama kurun waktu 14 Tahun lamanya, paska penandatanganan damai di Helsynki, Finlandia pada agustus 2005 silam.

Minusnya kepercayaan masyarakat dan pemuda terhadap Pemerintah Aceh bisa kita lihat dari sudut pandang yang nyata, terjadinya pengangguran Intelektual, dan minimnya lapangan kerja, juga tak terealisasinya poin-poin damai sesuai dengan yang tertuang dalam buku MOU, hal tersebut menandakan sebuah bentuk kegagalan Pemerintah Aceh dalam membangun kesejahteraan rakyat, sehingga perang antara masyarakat dan pemerintah-pun tercipta dengan sendirinya. (Perang kritik, perang kepercayaan, dan sebagainya).

Karenanya, hampir 75% Pemuda Aceh memilih untuk bersikap apatis, dan mengisi jawatan pengangguran tersebut dengan candu. (Candu bermain Games Online, candu dengan Smartphone, dan candu dengan hal-hal yang di anggap bisa menghibur hening dan waktu mereka untuk mencapai predikat sebagai pengangguran yang sejati). Dalam hal ini, pemetintah seperti tak memiliki sedikitpun kepekaan, bahkan bisa dibilang tak peduli, atuapun sama sekali tak ingin peduli dengan kondisi dan situasi yang sedang mengintai kaum muda Aceh. Jika persoalan ini dibiarkan terjadi tanpa solusi yang serius pemangku kebijakan dan pemerintah Aceh maka tidak bisa dipungkiri jika generasi Aceh ke-depan akan menjadi generasi candu dan Apatis.

*) Kinet BE, Masyarakat arus bawah, Penerjemah bahsa arwah gunong Goh

0Shares