Aceh Figur OPINI Politik Sosial Budaya

Antara BLC dan Panggung Diskusi

0Shares

Oleh Adam Zainal*

Diskusi demi diskusi kian menggelitik, selingan puisi yang dibacakan oleh Nurul Daba yang kerap disapa Dek Yun dari lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) seakan menghipnotis seluruh peserta acara, tepuk tangan dan sorak sorai bersahutan di seantero aula Sekdakab lama tersebut.

Sontak, hening buming–juga sorak sorai diikuti dentuman tepuk tangan yang cetar membahana mewarnai malam pembukaan Bireuen Lawyer Club (BLC) pada Sabtu malam, 14 September 2019, yang bertempat di Aula Sekdakab Lama kabupaten Bireuen. Pembukaan perdana acara diskusi yang bertajuk “Bireuen Dari Masa Kemasa” tersebut digagas oleh pemuda dan mahasiswa di kabupaten itu, mereka adalah pemuda-pemuda hebat kini dimiliki oleh Nanggroe yang dijuluki sebagai “Kota Juang” itu.

Di sini, saya melihat sebuah perpaduan warna yang hentak menyatu, berpadu ragam, satu hajat membangun Bireuen dalam kontesk kebersamaan. Campuran warna-warni itu mampu disatukan oleh sekumpulan teman-teman muda kita, yang sudah bersusah payah mengedepankan konsistensi dan kerjasama untuk menggarap diskusi publik yang alot seperti malam itu. Mereka adalah pemilik panggung tak berharga tersebut, memiliki tekad dan lentik buah pikir dalam menyatukan perbedaan persepsi–pola pandang para narasumber di forum diskusi.

Sebut saja, salah satunya saudara Yusri. Ketua Sekolah Pemimpin Muda Aceh (SPMA) Bireuen. Ia adalah panitia dari sekian banyak panitia acara yang ambil andil dalam mengsukseskan BLC, disamping itu juga turut dibantu oleh aktivis perempuan Muda Bireuen, Elga Safitri, perempuan nan kalem dengan beragam prestasi itu juga mampu meneduhkan segenap teman-teman panitia lainnya dari keluh-kesah kebosanan, semangat yang mereka torehkan malam itu telah tercatat menjadi sejarah baru para pemuda Kota Juang.

Diskusi demi diskusi kian menggelitik, selingan puisi yang dibacakan oleh Nurul Daba yang kerap disapa Dek Yun dari lembaga Aksi Cepat Tanggap (ACT) seakan menghipnotis seluruh peserta acara, tepuk tangan dan sorak sorai bersahutan di seantero aula Sekdakab lama tersebut. Di sisi lain, Rahmad Asri Sufa teramat piawai dalam mengimbangi diskusi para narasumber. Sebagai seorang Mederator (pembawa acara) dirinya menguasai penuh setiap waktu yang tersediakan untuk para narasumber.

Anak-anak muda hebat yang awalnya dianggap sepele oleh para senior sok hebat itu, mereka terbukti mampu menghadirkan tokoh-tokoh pendiri Bireuen, seperti H. Sofyan Ali, Mantan Bupati Bireuen Drs. Nurdin Abdul Rahman, yang juga Juru Runding Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki pada 2005 silam, Tokoh Nasional yang masih menyimpan aura mudanya, H. Fachrul Razi, M.IP, DPD RI dua periode yang dimiliki oleh Aceh, serta T. Rasyidin, SH. MH.

Selanjutnya, teman-teman panitia turut menghadirkan Aktivis anti korupsi, seperti Murni M. Nasir, Aktivis Walhi Muhammad Nasir (Nasir Buloh) juga Praktisi Hukum, beserta tokoh lainnya yang tak dapat saya sebutkan satu persatu.

Dalam pemaparanya, Sofian Ali mengaktan, “Saya bangga dan terharu malam ini, apa yang saya cita-citakan 20 tahun lalu untuk membangun Bireuen tercapai, dan malam ini menjadi sejarah bahwa pemuda Bireuen telah membuktikan kapasitasnya dengan membuat acara BLC,” kata H. Sofian Ali sang Deklarator pendiri kabupaten yang awalnya berinduk ke Aceh Utara itu.

“Bagi saya, BLC adalah forum kemerdekaan, tempat meluahkan segenap pemarsalahan yang selama ini menjadi belenggu bisu di hati para pendiri Bireuen, tokoh-tokoh pejabat Bireuen, para politisi Bireuen, dan juga belenggu pilu yang tersayap perih di hati para generasinya. Mengingat, belum ada forum diskusi yang tersaji sebebas dan sekeren ini. Saya mengapresiasi siapapun penggagasnya.”

BLC bukan hanya membuyar pekikan yang sudah lama dipendam oleh para tokoh, juga para narasumbernya, namum BLC mampu menyatukan mereka dalam konteks kebersamaan untuk menatap Bireuen di masa mendatang. Secara efektif, barangkali BLC telah mampu membunuh dendam tersirat para Peutuha Bireuen. Kita berharap, mereka tak menyimpan dendam– bersatu padu adalah segenap narasi dan solusi untuk Bireuen yang Gemilang di masa hadapan.

Di sini, saya juga mengutip satu perkataan dari Senator Aceh, Fakhrurazi, katanya. “Pemuda Bireuen bukan minim gagasan, tapi Bireuen tak memiliki forum diskusi yang memadai,” ujarnya.

Sebenarnya, hanya satu persoalan yang tidak dimiliki oleh kaum muda, yaitu kesempatan, dan kaum muda tidak pernah dipertimbangkan sebagai (Agent of change) agen perubahan, bahkan pemuda kerap dianggap sebagai ancaman bagi mereka–para penguasa.

*) Kinet BE, Penafsir Bahasa Arwah Gunong Gòh, Masyarakat Arus Bawah.

0Shares