Aceh AKALSEHAT Puisi

Antara Milad dan Jabatan Empuk Paska Helsinki

0Shares

Oleh Adam Zainal*

Dari lereng Halimon Tanoh Pidie,
Perlawanan diproklamirkan
Atas nama martabat dan Ideologi

Hari-hari berlalu dalam perlawanan melawan NKRI
Sang Deklarator GAM punya sejuta visi dan misi,
Dia Teungku Hasan Tiro, sang Wali Neugara.
Tokoh Jenius yang teramat disegani, bahkan ditakuti
Dengan “Doktrin dan Ideologi”,
Teungku Hasan mampu menggoyang tanah pertiwi
Tua muda, kanak-kanak dan perempuan ikut berpartisipasi
Di jalan perjuangan yang suci

Bulan berlalu, tahunpun berganti..
Tanoh Rencong menjadi amukan amunisi
Ladang para serdadu untuk membasmi
Menindas, membunuh dan menyiksa rakyat di bumi Seurambi

Lalu, bau amis menyayat tak henti-hanti
Rakyat tak berdosa saban hari menghadap sang Ilahi
Bersebab perang dan dentuman amunisi

Para lelaki disiksa, ditindas tak manusiawi
Perempuannya diperkosa lalu dibunuh hingga dibuang ke Kali
Para aktivis terus menyuarakan keadilan hampir saban hari
Ada yang diculik, ditembak mati, bahkan pusaranya entah di mana sampai dengan kini
Kanak-kanak didiskriminasi, juga di intimidasi
Mereka tak peduli, yang penting Aceh wajib mati
Begitu barangkali, para penguasa di Pusat sana memberi Intruksi

Dekade demi dekade berganti,
Gempa membawa gelombang Tsunami
Para insan digulung pada minggu pagi
Beratus-ratus nyawa melayang mati
Lalu sebuah hikmah datang memeluk Bumoe Seurambi
Aceh, deritamu tak henti-henti

Desember berganti, kinipun bertemu kembali
Nokhtah kesepahaman Antara GAM dengan RI
Masuk ke dalam ranah Delegasi
Kesepakatan damai tertoreh di Helsinki
Sampai akhirnya, Aceh damai, prahara sudah pergi
Perangpun berlalu, air mata mengalir sontak berhenti
Tumpah darah mulai kering
Namun, dendam terus membara membatin
Sampai ke akhir-akhir
Bahkan sang Wali Hasan Tiro meng-embus nafas terakhir
Dalam pelukan gema takbir putra-putri Aceh

Empatpulahtiga tahun perang sudah berakhir
Kini Aceh kembali dalam pelukan ibu pertiwi
Dendam yang dulu masih terukir
Kini sudah reda dengan berbagai sunjingan Rupiah yang saban tahun mengalir
BRR, BRA, Otsus dan maha anggaran lainnya
Hanya dinikmati oleh segelintir
Sedang korban konflik tetap saja dinukil tanpa di belai zahir
Para petinggi hilang daya pikir untuk kesejahteraan para yatim

Di atas kursi Empuk Jabatan
Sebahagian pejuang menggadaikan harga diri
Mereka se-olah lupa pada rakyat, pada kawannya yang dulu berjuang dalam satu misi, satu kongsi di bilangan rimba yang suci
Mereka lupa pada tujuan perjuangan dan ideologi
Bersebab terlena di atas kursi Empuk DPR, Gubernur dan Bupati

Wali.. Kami masih mengharap engkau kembali
Wali.. Kami masih menantimu di sini
Kembali-lah, hanya engkau yang mampu membawa Jati
Dan membawa indetitas Aceh itu kembali
Sebab, sebahagian para Prajuritmu sudah lupa diri, juga ingkar janji
Mereka kini terlena dengan sereceh anggaran dan empuknya kursi

Bireuen, 04 Desember 2019

*) Kinet BE, Masyarakat arus bawaPenerjemah Bahsa Arwah Gunong Goh.

0Shares