Aceh AKALSEHAT Sosial Budaya

Bangai adalah Modal Awal Kecerdasan!

0Shares

Oleh Adam Zainal*

Di sini, saya ingin menguraikan sedikit tentang kata “bangai”, supaya orang-orang cerdas mengetahui arti kecerdasan yang sesungguhnya, disamping mengajari mereka untuk belajar menjadi orang bodoh yang sejati-jatinya.

Suatu hari, seorang teman pernah berkata dengan kalimat yang seporadis seakan membanggakan jiwa–bila ucapan itu sudah keluar dari mulutnya. Kalimat seporadis itu tak serasis ucapan orang di salah satu kota besar terhadap Mahasiswa Papua baru-baru ini, tak juga serasis kalimat “pungoe” (gila) yang dilontarkan kepada bangsa Aceh oleh orang-orang diluar Aceh semenjak zaman Belanda.

“Bangai kah! Sapu tan kateupu bhah njoe (Kau bodoh!, Tak tahu apa-apa tentang ini,” ucap seorang teman kepada teman lain didepannya. Aku hanya menatap hening, menahan kecamuk amarah yang bangkit menggebu-gebu– tatkala mendengar kata maha rasis itu membunuh tabir agung intelektualitas– pula mencoreng nama luhur kearifan lokal Aceh dengan segenap keistimewaaannya.

Bagiku, kata bangai adalah kalimat maha rasis yang membunuh semangat dan cita-cita luhur generasi bangsa ini. Kata bangai memang kerap sekali dilontarkan oleh orang-orang yang menganggap dirinya lebih cerdas daripada orang lain. Padahal setiap manusia diciptakan oleh Allah SWT dengan berbagai ragam perbedaan, kelebihan, dan kekurangan.

Tetiba, dengan dorongan ego yang kian memuncak, aku berujar. “Besok, kau buat panggung diskusi, biar kita sama-sama menarasikan kata “bangai” supaya kau mengerti apa sebenarnya kebodohan itu,” kataku. Suasana semakin hening, masing-masing diantara mereka terdiam dan tak melanjutkan percakapan lagi, sedang aku beranjak dari meja kopi itu tanpa berpamitan kepada seorangpun.

Sebagai pemateri warung kopi, pindah dari satu warung kopi ke warung kopi yang lain sudah menjadi rutinitas sehari-hari, disamping mencari teman diskusi dan mencari ilmu baru dari siapa saja, apakah dia Profesor, Intelektual, Akademisi, Praktisi, Polititi, Sopir Truck, Tukang Becak, Ojek, Pengemis, bagiku mereka setara. Aku tak memandang kasta dalam menjalin silaturrahmi.

Nah! Maka dengan itu, sekarang aku ingin menarasikan kata “bangai” seperti yang sudah aku kupas di atas.

Menarasikan kata “Bangai”.

“Bangai”, adalah sifat. Sebuah kepatutan yang dimiliki oleh setiap manusia, dan dibawa sejak manusia itu lahir ke dunia. Bangai, bermakna kebodohohan (bodoh) dalam hakikat yang tak hakiki, barang tentu. Namun, awal mulanya sebuah kecerdasan dipicu dari spektrum sifat “bangai” itu sendiri.

Di sini, saya ingin menguraikan sedikit tentang kata “bangai”, supaya orang-orang cerdas mengetahui arti kecerdasan yang sesungguhnya, disamping mengajari mereka untuk belajar menjadi orang bodoh yang sejati-jatinya.

“Ini bukanlah masalah mengulit kenangan, ataupun menceritakan kisah hidup. Aku sendiri adalah bocah yang sampai kini dicap “bangai” oleh orang-orang di kampungku, juga teman lama dan teman baruku, dan manusia di lingkungan sosialku, bahkan saudaraku sendiri juga terlihat seperti membenarkan kebodohan itu mutlak milikku”.

Pada dasarnya, kata “bangai” ataupun bodoh adalah prasa rasisme yang keluar dari mulut-mulut manusia berwatak seporadis, dan barangkali dianggap sepele, namun efeknya lumayan besar. Kita tahu, bahwa tiada satupun manusia yang menerima dengan lapang dada dicap sebagai orang bodoh, namun ada juga sebahagian orang yang mempunyai sifat “bodo amat” dan tak peduli dicap sebagai orang bodoh, dengan kalimat-kalimat rasis– serasis apapun itu–sebab mereka sudah hidup dalam konteks kemerdekaan, diajarkan oleh pengalaman dan alam, orang-orang seperti itulah yang layak dicap sebagai pemilik jiwa bijaksana.

“No problem” terserah kalian saja, mahu menganggap orang lain bodoh, sesuai dengan persepsi dan nalar kalian masing-masing, aku rasa itu hal lumrah, juga tak mengapa, sebab bagi sebahagian orang, itu bukanlah hal yang tabu, juga bukan hal yang baru. Kita sudah semenjak lahir dicap bodoh, didiskrimanasikan dengan kalimat-kalimat rasialisme semacam itu.

Sebenarnya, ini menjadi problem besar manusia, pembunuhan karakter yang disandang sejak lahir sampai seseorang itu sudah dewasa. Dampak dari ini apa? Menjularnya racun-racun rasisme yang membunuh harapan dan masa depan generasi, disamping melenyapkan ruh-ruh semangat mereka untuk mencapai cita-cita yang luhur dalam kehidupannya kelak.

*)Kinet BE, Masyarakat arus bawah, Penafsir bahasa arwah gunong Gòh.

0Shares