Aceh AKALSEHAT Ekonomi Industri dan UKM Knowledge Sharing

Bank Sampah, Trend Baru Warga Ubah Sampah Jadi Rupiah

0Shares

Pada dasarnya, Bank sampah adalah strategi untuk membangun kepedulian masyarakat agar dapat ‘berkawan’ dengan sampah untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah.

ANews– Mendengar kata ‘Bank Sampah’, setidaknya bakal terbayang di pikiran anda ada sebuah Bank yang mejadikan sampah sebagai tabungan bagi pemiliknya yang nanti akan dapat ditukar dengan mata uang rupiah.

Benar, Bank Sampah merupakan konsep pengumpulan sampah kering dan sudah dipilah serta memiliki manajemen layaknya perbankan, tapi yang ditabung bukan uang melainkan sampah.

Warga yang menabung juga disebut nasabah dan juga memiliki buku tabungan serta dapat meminjam uang yang nantinya dikembalikan dengan sampah seharga uang yang dipinjam. Sampah yang ditabung ditimbang dan dihargai dengan sejumlah uang nantinya akan dijual di pabrik yang sudah bekerja sama.

Dewasa ini Bank Sampah mulai mendapatkan tempat di tengah masyarakat luas, tidak sedikit pula Bank Sampah ada yang sudah berhasil, menjamin sampah nasabahnya serta dana yang dihasilkan mencapai Miliyaran rupiah. Ada juga yang membentuk unitnya menjadi kelompok-kelompok koperasi kecil dengan tujuan agar bank sampah dapat di akses dipelbagai wilayah kerja kelompok unit yang besar.

Di Aceh memang belum menjadi salah satu trend, namun bila dikaji manfaat serta kegunaannya, setiap desa sebenarnya dapat mengaplikasikannya. Selain melestarikan budaya mengubah sampah menjadi nilai, juga dapat mengurangi tumpukan sampah di desa, ditambah untuk ada modal awal juga tersedia Dana Desa, bila ingin membentuknya sebagai Badan Usaha Milik Gampong/Desa (BUMG/D) sebagai penyokong debet Bank Sampah.

Pada dasarnya, Bank sampah adalah strategi untuk membangun kepedulian masyarakat agar dapat ‘berkawan’ dengan sampah untuk mendapatkan manfaat ekonomi langsung dari sampah.

Jadi, bank sampah tidak dapat berdiri sendiri melainkan harus diintegrasikan dengan gerakan 4R sehingga manfaat langsung yang dirasakan tidak hanya ekonomi, namun pembangunan lingkungan yang bersih, hijau dan sehat.

Bank sampah juga dapat dijadikan solusi untuk mencapai pemukiman yang bersih dan nyaman bagi warganya. Dengan pola ini maka warga selain menjadi disiplin dalam mengelola sampah juga mendapatkan tambahan pemasukan dari sampah-sampah yang mereka kumpulkan.

Tampaknya pemikiran seperti itu pula yang ditangkap oleh Kementerian Lingkungan Hidup. September tahun lalu instansi pemerintah ini menargetkan membangun bank sampah di 250 kota di seluruh Indonesia.

Menteri Negara Lingkungan Hidup waktu itu, Balthasar Kambuaya mengatakan sampah sudah menjadi ancaman yang serius, bila tidak dikelola dengan baik. Bukan tidak mungkin beberapa tahun mendatang sekitar 250 juta rakyat Indonesia akan hidup bersama tumpukan sampah di lingkungannya.

PROSES DAN CARA KERJA?

Sama seperti di bank-bank penyimpanan uang, para nasabah dalam hal ini masyarakat bisa langsung datang ke bank untuk menyetor. Bukan uang yang di setor, namun sampah yang mereka setorkan. Sampah tersebut di timbang dan di catat di buku rekening oleh petugas bank sampah. Dalam bank sampah, ada yang di sebut dengan tabungan sampah.

Hal ini adalah cara untuk menyulap sampah menjadi uang sekaligus menjaga kebersihan lingkungan dari sampah khususnya plastik sekaligus bisa dimanfaatkan kembali (reuse).

Biasanya akan di manfaatkan kembali dalam berbagai bentuk seperti tas, dompet, tempat tisu, dan lain-lain. Syarat sampah yang dapat di tabung adalah yang rapi dalam hal pemotongan. Maksudnya adalah ketika ingin membuka kemasannya, menggunakan alat dan rapi dalam pemotongannya. Kemudian sudah di bersihkan atau di cuci.

Yang terakhir, harus menyetorkan minimal 1 kg. Ada dua bentuk tabungan di bank sampah. Yang pertama yaitu tabungan rupiah di mana tabungan ini di khususkan untuk masyarakat perorangan. Dengan membawa sampah kemudian di tukar dengan sejumlah uang dalam bentuk tabungan.

Beberapa contoh kemasan plastik yang dapat di tukar yaitu menurut kualitas plastiknya.

Kualitas pertama yaitu plastik yang sedikit lebar dan tebal (karung beras, detergen, pewangi pakaian, dan pembersih lantai).

Kualitas ke dua yaitu plastik dari minuman instan dan ukurannya agak kecil (kopi instan, suplemen, minuman anak-anak, dan lain-lain).

Kualitas ke tiga yaitu plastik mie instan.

Kemudian kualitas ke empat yaitu botol plastik air mineral.

Yang paling rendah yaitu kualitas nol adalah bungkus plastik yang sudah sobek atau tidak rapi dalam membuka kemasannya. Karena akan susah untuk di gunakan kembali dalam berbagai bentuk seperti tas, dompet, tempat tisu, dan lain-lain. Untuk kualitas yang terakhir, harus di setor dalam bentuk guntingan kecil-kecil (di cacah).

Bentuk tabungan sampah yang kedua di sebut tabungan lingkungan. Tabungan lingkungan adalah partisipasi perusahaan dan kalangan bisnis untuk pelestarian lingkungan. Tabungan ini tidak dapat di uangkan, tetapi nasabahnya akan di publish ke media sebagai perusahaan atau kalangan bisnis yang melestarikan lingkungan. Lebih lanjut akan di berikan piagam BUMI setiap hari lingkungan hidup.

Inilah salah satu alternatif untuk memecahkan masalah sampah dan ikut berpartisipasi melestarikan lingkungan. Yang pada akhirnya berdampak baik untuk bumi ini. Sekecil apa pun yang kita lakukan untuk bumi ini, pasti akan berdampak besar bagi kelangsungan bumi itu sendiri. Nah, akankah Aceh menjadi salah satu bahagian pelopor Bank Sampah di Indonesia? menarik untuk dicoba![]

0Shares