Aceh FEATURE Knowledge Sharing Trivia

Cunda Plaza, Ikon Metropolis yang Pernah Ada di Aceh

0Shares

Rona langit kemerahan di belahan barat dan timur, suasana di malam hari pun tampak hingar bingar, deru mesin becak motor jadul Drampt Kraft Wagen (DKW) dan Birmingham Small Arm (BSA) buatan Inggris yang knalpotnya dikenal mengeluarkan asap bak fogging layanan Dinas lingkungan Hidup dan Kebersihan mematikan jentik nyamuk. Metropolis itu seakan nyata, dan pernah ada dalam bayang pintas ingatan di kepala.

Mentari pagi nan cerah menyinari polusi kota, bus-bus milik perusahaan bonafit yang berlalu mengantar siswa sekolah anak para karyawan. Ya, memang Lhokseumawe terlihat sibuk dan cosmopolitan di era tahun 90-an.

Pernah berada dalam jajaran kota-kota besar di pulau Sumatera, kehadiran pabrik penyulingan gas PT. Arun pernah memberi angin segar bagi wajah ibukota Aceh Utara waktu itu. Kesibukan kota seolah benar adanya nama Petro Dollar, sebagai wujud dari sibuknya arus transportasi di wilayah itu.

Becak bermesin DKW buatan inggris tempo dulu jadi andalan transportasi umum warga, motor mesin dua tak eks luar negeri itu di kayuh terlebih dahulu, baru kemudian Ia berjalan sembari menebarkan polusi dimana-mana, suaranya yang khas memberi tanda– bahwa anda sudah tiba di kota Lhokseumawe–metropolitan melebihi ibu kota-nya Aceh, Banda Aceh dulu.

Petro Dollar memang merubah gaya hidup kebanyakan orang pada masa kejayaanya, kesibukan di pagi hari berubah menjadi lampu-lampu kota yang di iringi kemerahan langit di malam hari–rona pancaran api buangan gas– salah satu bandar berdigdaya di sisian Selat Malaka itu.

Gedung eks Cunda Plaza, Ikon Metropolis yang pernah ada di Aceh

Cunda Plaza adalah ikon dan sebuah bukti kota ini pernah menjadi metropolitan di masanya, pusat perbelanjaan modern yang bahkan di ibukota Aceh saja belum ada waktu itu. Selain pusat perbelanjaan disana juga tersedia arena bermain, hingga teather sekelas bioskop. Perusahaan- perusahaan raksasa itu mengubah gaya hidup masyarakatnya menjadi urban–Gaya dan Uang — sepertinya itu yang diajarkan oleh pabrik gas dulu.

Hilir mudik masyarakat dari berbagai daerah sekitar tertuju ke Gedung lantai empat berwarna merah muda itu, Cunda Plaza pusat perbelanjaan terlengkap pada masanya. Memasuki pintu utama suasana dingin mulai kentara, AC central menjadi pendingin ruangan. Di lantai satu gedung terdapat berbagai restoran berkelas–franchise sekelas KFC dan A&W biasa ditonton di televisi ada disini– menuju ke lantai dua pun hanya cukup menginjakkan kaki saja, escalator mengantar ke areal selanjutnya.

Wahana permainan anak bisa dibilang terkeren pada masanya, kereta api semi roller coster, Robocop hingga Bomcar–mobil gila– menjadi salah satu daya tarik wahana bermain laiknya mall besar di luaran Aceh waktu itu.

Malam Minggu menjadi masa hingar bingar kota, lampu warna warni menghiasi bangunan itu. Beragam jenis kendaraan memadati areal parkir, bangunan ruko di sekitar pun tampak menghidupkan suasana di gemerlap suasana kota.

Tampak dari depan Gedung eks Cunda plaza

Namun itu Dulu, dua puluh satu tahun yang lalu. Semenjak jatuhnya Orde Baru dan awal mula era reformasi menggema, demonstrasi merebak dan terjadi dimana-mana. Tak terkecuali di Lhokseumawe, kota industri pusat cosmopolitan pada eranya. Penjarahan massa mulai merambah ke berbagai pertokoan milik warga Tionghoa, Cunda Plaza salah satu tak luput dari aksi tersebut waktu itu.

Setelah terjadinya kerusuhan, penjarahan dan pengrusakan, Cunda Plaza tutup total. Hingga saat ini tak ada informasi jelas sebab musabab apa yang membuat pemilik dan pengelola Plaza pertama di Aceh itu memilih mengosongkan gedung berlantai empat itu. Ikon metropolis pada masanya itu kini wujud salah satu bangkai kejayaan pernah ada di kota ini, selain besi tua beberapa eks bangunan pabrik penyulingan gas alam. Bangunan merah muda dan pertokoan disekitar gedung itu kini kosong melompong, hingar bingar kini hanya menjadi milik burung walet, terlihat suram di awal memasuki jantung kota. Tak ada lagi banner berbagai film yang terpampang di dinding Gedung merah muda itu, lampu-lampu padam, seakan benar adanya, konflik turut andil senyapkan gemerlap lampu metropolis di kota tua itu.[]

0Shares