Aceh Adventure FEATURE Figur Knowledge Sharing

Gereb, Kisah Seorang Diri Eks Kombatan Selama Delapan Bulan di Hutan Belantara

0Shares

Konflik yang berkepanjangan antara RI dan GAM memang sudah berakhir semenjak ditandatanganinya kesepakatan penghentian permusuhan antara kedua belah pihak di meja runding yang menghasilkan MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005 lalu, di Helsinky, Finlandia.

Pun begitu, ada banyak kisah konflik yang mungkin belum diketahui publik, bukan bermaksud mengungkit luka lama, kisah-kisah yang dijalani eks Kombatan di pedalaman hutan Aceh dapat menjadi history bagi anak cucu di masa yang akan datang.

Oleh Fauzan Azima*

Muhammad Kasim alias Gereb (34 tahun) adalah Pasukan Daerah I GAM Wilayah Linge. Mulai masuk pasukan pada tahun 2001. Ketika itu beliau sudah berumur 19 tahun, akan tetapi sudah bergaul dengan pasukan GAM sejak tahun 2000. Saat itu ditugaskan ke daerah Pasir Puteh untuk mengontrol illegal logging yang dilakukan oleh masyarakat yang sudah mulai merambah ke Wilayah Linge.

Gereb baru bergabung total dengan pasukan setelah Jeda Kemanusiaan tahun 2002. Perang pertama kali di Kampung Umang, Kecamatan Linge, Kapupaten Aceh Tengah. Saat itu beliau membawa GLM rakitan dengan dua peluru. Ketika itu Pasukan GAM dipimpin oleh Tarzan sebagai Komandan Operasi Daerah I. Pasukan menghindar dan menuju Wih Resap, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah. Pada saat itu masih sempat membuat bivak semalam dan pada sore hari esoknya mereka dikepung oleh TNI yang menyebabkan tiga pasukan syahid; Ibrahim (Gunte), Alga dan Awan Gaya.

Kemudian pasukan, termasuk Gereb bergerak menuju ke Aceh Utara. Setelah beberapa bulan, pasukan Linge kembali ke kawasan, namun mereka dihadang oleh TNI di daerah Uyem Pepongoten, Kecamatan Mesidah, Kabupaten Bener Meriah. Berkat kegigihan dan keyakinan, pasukan bisa menembus Ibu Kota Bener Meriah, Kota Simpang Tiga untuk mencari perbekalan.

Gereb juga mengalami pengepungan TNI di hutan Sekitar Bewang, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah. Pada masa itu pasukan dipimpin oleh Junaidi alias Rela yang juga syahid pada peristiwa itu. Selain itu juga syahid seorang pasukan; Armia alias Gundul.

Sejak peristiwa Bewang itu, Gereb berpisah dengan pasukan dan bergrilya seorang diri selama delapan bulan di hutan belantara. Dalam kesendiriannya beliau mencari pasukan ke tempat-tempat yang pernah disinggahi. Tidak ada lagi ketakutan dalam dirinya, yang dikhawatirkan hanya bertemu musuh karena hanya seorang diri.

Dalam peristiwa Bewang, Gereb juga mengalami luka tembak pada bagian betis sebelah kiri. Beliau mengobatinya seorang diri dengan arang batang damar dicampur dengan gula pasir yang sudah digiling. Lukanya baru sembuh total sekitar 20 hari dan kondisi tubuhnya baru normal kembali.

Dalam kesendiriannya pernah mengalami perang dua kali dengan TNI. Yaitu di daerah Pantan Tengah, Kecamatan Permata, Kabupaten Bener Meriah, serta juga pernah berperang di Blang Ranto, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara.

Sebelum berperang seorang diri di Blang Ranto, Gereb melihat pesawat Bronco mengebom kawasan Blang Ranto yang TNI/Polri menduga Muallim Muzakkir Manaf berada di sana.

Gereb baru bertemu dengan pasukan pada hari kelima Lebaran Idul Fitri 2004 di Bukit Rebol, Kecamatan Bandar, Kabupaten Mener Meriah. Pada waktu Muallim Muzakkir Manaf sudah berada di Bukit Rebol di bawah pengendalian GAM Wilayah Linge.

Setelah Muallim Muzakkir Manaf berhasil dievakuasi ke Wilayah Bateilek, Gerep dan beberapa pasukan menuju Wilayah Alas, Kutacane, Kabupaten Aceh Tenggara. Gerep dan pasukan GAM Linge baru kembali ke Bener Meriah setelah damai RI-GAM, 15 Agustus 2005.

Sebagaimana umumnya pasukan GAM Wilayah Linge lainnya, sekarang Gerep sebagai seorang petani kopi dan palawija dengan lahan kurang dari setengah hektar. Tidak ada yang peduli dengan kehidupannya sebagai salah seorang tokoh perjuangan dan perdamaian Aceh, namun dirinya tetap bersyukur masih diberikan kesempatan hidup oleh Yang Maha Kuasa untuk memperbaiki diri.

(Simpang Tiga, 2 Januari 2020)

*) Eks Panglima TNA wilayah Linge–Sayap Militer Gerakan Aceh Merdeka

0Shares