Aceh AKALSEHAT OPINI Sosial Budaya

HKSN Berkah Bagi Hamzah Bin Haji Rauf

0Shares

Oleh Fauzan Azima*

Kapanpun ditulis, sejarah itu tetap aktual. Tidak heran ketika mengingat peristiwa masa lampau, rasanya baru saja kemarin terjadi. Demikian Teungku Hamzah Bin Haji Rauf ketika mengenang masa konflik RI-GAM pada tahun 1990-an di Gampong Blang Pandak, Kecamatan Tangse, Kabupaten Pidie, dan berharap agar konflik tidak terulang kembali.

“Saya korban fitnah. Saya disiksa bersama 12 orang lainnya dituduh menyimpan senjata” kata Teungku Hamzah dengan air muka yang berubah-ubah. Sesekali sedih ketika bercerita bagaimana sedih dan sakitnya dihina dan disiksa. Beruntunglah istrinya, Zainatun Arsyad berasal dari Takengon faseh berbahasa Jawa sehingga menjadi berkah bagi dirinya dan masyarakat Dusun Simpang Teungoh, Gampong Blang Pandak, tidak lagi mengalami intimidasi dan siksaan kerena pembelaan dari istrinya.

Teungku Hamzah tidak bersekolah, tetapi masyarakat Kampung mendaulatnya sebagai Kepala Dusun. Sehingga segala sesuatu yang terjadi di dusunnya menjadi tanggung jawabnya. Termasuk ketika GAM maupun TNI masuk ke dusunnya, beliau harus pandai “peutimang” menurut situasi dan kondisi.

Wajahnya berseri ketika bercerita ada harapan kesejahteraan bagi dirinya dan keluarganya.
Setidaknya untuk hari ini, anak perempuannya yang mengalami “gangguan berbicara” Yusmina bin Hamzah (44 tahun) dan menantunya Samsul Bahri Bin Cut Amat (35 tahun) mendapat pembangunan rumah bantuan Gubernur Aceh pada Hari Kesetiakawanan Nasional (HKSN) yang dilaksanakan pada Rabu, 25 Desember 2019 yang dipusatkan di Gampong Blang Pandak.

Samsul Bahri dan Yusmina sebagai suami istri sangat wajar menerima bantuan pembangunan rumah. Rumah yang ditempati hanya seluas 4×4 meter yang dihuni bersama tiga anaknya. Aparat gampong dan masyarakat telah bersepakat bahwa keluarga tersebut layak mendapatkan bantuan rumah. Apalagi dari pandangan syariat dan etika tidak elok. Anak-anaknya pun sudah mulai beranjak dewasa. Anak yang paling sulung bernama Desi Ratnasari bersekolah di SMP Blang Dhod, anak kedua bernama Nabila sudah kelas VI MIN di Blang Pandak dan anak bungsunya Azka Azril masih kelas I juga di MIN Blang Pandak.

Anak dan menantu Teungku Hamzah hanya buruh tani. Bekerja serabutan. Punya tanah setengah hektar kebun kopi, tetapi tidak terurus karena Samsul Bahri baru saja sembuh dari sakit lumpuh akibat pada masa konflik pernah mengalami penganiayaan. Sehingga kebun miliknya tidak banyak membantu dalam meningkatkan ekonomi keluarganya.

Bagi Teungku Hamzah mendapat bantuan rumah bagi anak menantunya, seperti kemarau setahun dihilangkan oleh hujan sehari. Bertahun-tahun mengingat pedihnya hidup di masa konflik dan berharap mendapat bantuan pemerintah tidak kunjung datang juga, tanpa dinyana pada peringatan HKSN tahun ini, Teungku Hamzah bisa tersenyum sumringah. Apalagi peletakan batu pertama pembangunan rumah anak menantunya dilakukan oleh PLT Gubernur Aceh, Ir. H. Nova Iriansyah, MT.

(Blang Pandak, 25 Desember 2019)

*) Eks Panglima TNA–Sayap Militer Gerakan Aceh Merdeka, Pekerja Sosial, dan juga pemerhati lingkungan dan sosial budaya Aceh.

0Shares