Aceh AKALSEHAT

Lazim tak Lazim; Menghamba Jiwa Juga Menjadi Kebanggaan, Daripada Lapar!

0Shares

“Peu tajäk u rumóh. Trók tanyoe jie plung, ” timpal orang di sudut kanan yang entah siapa namanya. Aku tak tahu.

“Bän ka meuhasë ciet ka pura-pura tuwö jih keu tanyoe,” sambung seseorang diantara mereka.

“Lazim tak lazim. Menghamba jiwa juga menjadi kebanggaan, daripada lapar!” kata mantan Timses. “Bukankah tugas kita memang itu? Bersembah sujud dihadapan para politisi yang sudah kita Dewakan?” kata seorang teman Jones. Sembari melempar pertanyaan kepada kami.

Aku terus mengamati dengan seksama pembicaraan sekelompok timses (tim sukses) presiden dan caleg gagal itu. Ada gelegat tawa yang terpancar, namun tak sedikit juga tatap murung menghapari rupa-rupa polos itu. Bagi mereka terjun dan menjadi bahagian dalam dunia politik adalah suatu kecerdasan, disamping menjadi orang hebat dikalangan masyarakat Gampông. Dan, bagiku ini bahagain dari wujud kebebasan, memilih jalan hidup masing-masing adalah kemerdekaan.

Menjadi timses bukan perkara yang mudah jika kita melihat dunia perpolitikan kita yang semakin kacau-balau, apalagi rakyat kebanyakan tak percaya lagi dengan yang namanya politik. Makna miss of truth (hilang kepercayaan) rakyat terhadap politik tak lain ditujukan kepada degelan-degelan di dunia politik itu sendiri, yaitu; para Politisi, simpatisan, kader partai, bahkan sekaliber timses juga dianggap sebagai biang dan wadah “dusta” yang kerap sekali ingkar janji.

Perbicangan mereka semakin alot, kekecewaan memuncak ketika salah seorang diantaranya menelepon seorang dewan yang baru terpilih, dan akan dilantik dalam waktu dekat ini, sang dewan tersebut tak menjawab telepon dari timsesnya itu. Sedangkan dewan itu adalah junjungan mereka waktu pileg bulan April lalu. Di sebelahku, Jones mulai mengelus-elus kepalanya, tetiba iya berujar, “tajäk u rumóh geuh aju, ” katanya dalam bahasa Aceh.

“Peu tajäk u rumóh. Trók tanyoe jie plung, ” timpal orang di sudut kanan yang entah siapa namanya. Aku tak tahu.

“Bän ka meuhasë ciet ka pura-pura tuwö jih keu tanyoe,” sambung seseorang diantara mereka.

Suasana sempat hening, masing-masing kami mulai menatap pandang, aku yang semenjak tadi diam masih mengamati dekap peluh keputuasaan mereka. Barangkali, mereka kecewa dengan tipudaya sang politisi tersebut, namun kita juga tak boleh berhipotesa berlebihan, mungkin sang dewan memang lagi sibuk dengan kesiapan dan persiapan pelantikannya, disamping menjaga dan menjunjung tinggi aturan dan peraturan (AD/ART) partainya.

Hari mulai menjelang petang, senja kala di peluk mega mendung. Sesekali Halilintar begitu girang menyambar bumi. Diurainya kerugian, juga letih, semasa kompanye untuk memenangkan sang calon wakil rakyat pujaannya dalam mengambil simpati rakyat, disamping harus menerima resiko, dicap sebagai pengkhianat oleh sebahagain masyarakat, bahkan dikata-kata dengan ucapan-ucapan rasis. Namun mereka tetap konsisten, dan istiqamah, demi capaian cita-cita dan harapan masyarakat yang ditautkan di atas pundak sang Politisi itu.

“Itulah politik,” sahutku. Sekadar ingin mengisi peluh hening meja kopi itu. “Abang-abang, tahu? Bahwa janji politisi itu layaknya “ka’öi awak klëng” (hajatnya orang Banggali),” kataku lugas.

“Ini baru permulaan, bang,” timpalku seraya mendamaikan amarah batin sekolompok Timses polos itu. “Kita jangan terlena dengan prasangka tak baik, karena politisi juga manusia yang punya sifat bahru dan pelupa. Barangkali, mereka juga sedang kesusahan, dan tak bisa tidur memikirkan abang-abang. Sebab, sebangsat-bangsatnya manusia, ia tak akan pernah melupakan jasa orang lain, walaupun lima tahun sekali,” pungkasku.

“Tentu. Tapi aku mulai tak percaya lagi dengan politisi. Mereka semua sama, “Pëci jih sagai yang na ge’ng-geng, akai jih meu-Jën,” sambung abang yang duduk berhadapan denganku. Ucapnya penuh amarah.

“Kamoe brät thät ka keucewa, meu jie lantik jih golom ka jie peumatë Hapë, ” sambung orang di sebelah Jones.

“Sudahlah. Kita tak perlu membahas itu lagi,” potong Jones kemudian. “Setidaknya untuk kedepan kita tak akan tertipu lagi dengan cara yang seperti ini. Anggap saja ini pengajaran untuk sebuah pengalaman,” tuturnya bijak.

“Sejak kapan, kau mulai bijak, Jones?” tanyaku. Sedang sekolompok timses itu ketawa terpingkal-pingkal mendengar pertanyaan yang kutujukan kepada Jones.

“Kan. Sudah pernah kubilang. Politik adalah sandiwara. Namun, kau selalu mengata-ngatiku bodoh, tak paham politik, “aneuk miet bän rayeuk, pät káh watë prâng?” dan sebagianya. Kau fikir, politik itu tilam suci untuk menyembah tuhan?” lanjutku bertanya.

“Ka’iem keudêh, bëk lè ka ulang atâ-atâ soet,” timpal Jones kesal.

Suasana kembeli ceria, raut murung sekelompok timses itu kini mulai berseri kembali, mereka juga dengan seksama mengamati percakapanku dengan Jones, dan sesekali kelucut tawa itu terdengar di seantero warung kopi. Namun, kurasa kini amarah kekecewaan mereka sudah terbendung. Terperangkap dengan dialog usilku dan Jones.

*) Kinet BE, penafsir bahasa arwah Gunong Góh, Masyarakat Arus Bawah.

0Shares