Aceh Industri dan UKM OPINI

Menunggu Karbon Tetap Diproduksi di Krueng Seupeng

0Shares

Oleh Ayi Jufridar*

Ini bukan karbon monoksida yang beracun. Bukan pula karbon diaoksida atau karbon tetraklorida. Karbon ini singkatan dari kates (pepaya) rasa abon.

Salah satu program yang harus dilakukan mahasiswa Universitas Malikussaleh ketika melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Aceh Utara adalah mendukung kemandirian desa dengan mengangkat potensi yang ada. target itu mendorong mahasiswa untuk lebih mengenal potensi desa dan lebih kreatif dalam menggagas program.

Pemberitaan masif di berbagai media tentang kegiatan KKN kali ini, membuat para mahasiswa mendapatkan informasi tentang kegiatan kelompok lain dan mengadopsinya dengan sentuhan modifikasi yang kreatif dan relevan dengan potensi desa.

Bagi Kelompok 85 di Desa Krueng Seupeng Kecamatan Kuta Makmur Kabupaten Aceh Utara, kreativitas itu mereka salurkan dalam berbagai program, salah satunya mendukung perekonomian warga melalui Karbon.

Ini bukan karbon monoksida yang beracun. Bukan pula karbon diaoksida atau karbon tetraklorida. Karbon ini singkatan dari kates (pepaya) rasa abon. Akronim yang sangat tepat, sesuai pula dengan produk yang dihasilkan. Karbon juga berkonotasi positif karena berkaitan dengan oksigen yang sangat dibutuhhkan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Humas Kelompok 85, Wani Fitri, bercerita gagasan membuat Karbon muncul karena ibunda dari seorang anggota kelompok, Nurhafiza, sering membuat produk sejenis dari bahan buah pepaya muda. “Kami juga melihat, di Krueng Seupeng banyak sekali pohon pepaya. Jadi, bahan baku sangat mudah didapat, bahkan gratis,” ungkapnya ketika ditemui di Krueng Seupeng, Sabtu (14/9/2019).

Di atas meunasah (surau) Krueng Seupeng, Nurhafiza dkk menyuguhkan Karbon dalam dua rasa, yakni original dan balado. Nurhafiza menyebutkan, mereka membuat Karbon dalam tiga rasa; original, balado, dan jagung bakar. Tapi pengembangannya lebih banyak varian seperti rasa jagung manis, berbaque, dan sebagainya.

“Biasanya, abon itu dibuat dari daging. Kali ini dari pepaya. Rasanya tidak kalah lezat,” ungkap Nurhafiza, mahasiswa Fakultas Hukum yang didampingin anggota Kelompok 85 lainnya seperti Khairul, Nazila Fitri (Fakultas Teknik), Hayatun Nura (Fakultas Ekonomi dan Bisnis), serta yang lainnya.

Menurut Nurhafiza, cara membuat Karbon juga sangat mudah. Pepaya muda dirajang halus kemudian dikeringkan sebelum digoreng dengan campuran bawang dan bumbu lainnya. Pantas saja aroma bawang yang gurih terasa sangat kental ketika mengunyah Karbon. Dosen Fakultas Hukum Universitas Malikussaleh, Zulfadli Ilmar, mengacungkan dua jempol ketika mengunyah Karbon dalam perjalanan menuju Desa Blang Ado dan Desa Ceumeucet Kecamatan Kuta Makmur.

Karbon bisa dimakan sebagai camilan atau bisa juga ditaburi di atas berbagai jenis makanan lainnya, terutama nasi. Taburan Karbon yang bercampur dengan nasi menghasilkan cita rasa tinggi yang menggugah selera makan.

Meresapi kegurihan Karbon, sudah seharusnya makanan itu menjadi salah satu produk andalan warga Krueng Seupeng, terutama kaum ibu. Hayatun Nura menyebutkan, masyarakat Krueng Seupeng sebagian besar berprofesi sebagai petani yang harus menunggu 3 – 4 bulan untuk menikmati panen. “Agar mereka selalu produktif, membuat Karbon menjadi penghasilan sampingan,” katanya.

Bukan itu saja. Karbon punya potensi menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat Krueng Seupeng, kalau konsisten memasarkannya. Selain proses pembuatan yang mudah, bahan baku murah bahkan bisa gratis, rasanya pun cetar membahana. Tidak sulit mendapat pasar ketika Karbon diproduksi secara massal.

Peluang itu ditangkap Salbiah, seorang penduduk Krueng Seupeng. Menurutnya, Karbon bisa jadi sumber bisnis karena tidak membutuhkan modal besar. Ia mulai membuat Karbon dengan harga yang dijual Rp5000 sampai Rp15.000 sesuai kemasan.

Biasanya, produk cemerlang karya mahasiswa KKN hanya bertahan beberapa bulan setelah mahasiswa pulang dari lokasi KKN. Masyarakat tidak melanjutkan produksi karena berbagai alasan. Padahal, di antara produk tersebut banyak yang berpotensi mengangkat perekonomian keluarga, asal dijalankan secara konsisten dan inovatif. Dan Karbon termasuk dalam daftar produk tersebut karena semua persyaratan untuk membuatnya sustanable sudah terpenuhi.

Mari kita tunggu beberapa bulan dan beberapa tahun ke depan apakah masih ada Karbon di Krueng Seupeng.

*) Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB) Universitas Malikussaleh , Juga Bekerja sebagai jurnalis dan penulis fiksi. Novelnya yang sudah terbit, Alon Buluek (2005), Kabut Perang (2010), Putroe Neng (2011), dan 693 KM Jejak Gerilya Sudirman (2015). Diundang ke Ubud Writer and Reader Festival dan International Visitor Leadership Program (IVLP) ke Amerika Serikat pada 2012.

0Shares