Aceh AKALSEHAT Nasional Sosial Budaya

Rasisme Adalah Warisan!

0Shares

Oleh Adam Zainal*

Di Indonesia, rasisme adalah semacam wujud atau jatidiri setiap manusia, bahkan sudah bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk kebutuhan atau pakaian sehari-hari. Bagaimana tidak? Rasisme begitu berkembang biak di Negara yang menganut sistem demokrasi ini (demokrasi yang dimaksud tak lain adalah kebebasan berpendapat di muka umum). Namun sebahagian yang menyampaikan pendapat dan argumentasi di hadapan publik sarat dengan azas kepentingan, sehingga prilaku-prilaku rasis tersebut sulit untuk di bendung.

Rasisme sudah menjadi kosumsi sehari-hari masyarakat Indonesia. Disamping menjadi warisan yang diwariskan oleh penjajah kolonial Belanda zaman dulu. Rasisme tersebut tidak hanya menimpa ras, suku, dan agama, juga tidak hanya berlaku untuk kalangan atas atau kalangan politisi, sebab sikap rasisme di negeri ini sudah mendarah daging.

Sikap rasis kerap menimpa masyarakat kalangan bawah dan menjadi senjata ampuh bagi manusia yang berwatak pemuja, juga bagi mereka yang ber-otak rasis dalam kehidupan sehari, baik dalam segi bermasyarakat, pergaulan, pekerjaan, ataupun bagi kelompok orang yang dianggap sebagai musuh, serta dianggap saingan oleh pemilik rasisme itu sendiri.

Sebelum bangsa ini merdeka, orang Belanda pernah mengatakan rakyat pribumi Indonesia dengan sebutan Monky (Kera atau Monyet) sebagai ucapan sarkastik mereka sehari-hari ketika bertemu dengan penduduk asli Negeri ini.

Kini sikap rasisme itu telah turun-temurun dan semacam dianut oleh bangsa ini dalam kehidupan sehari-hari mereka, juga mulai beranak-pinak sampai dengan hari ini. Barang tentu, rasisme adalah salah satu warisan negeri ini. Warisan dari para Kolonialis yang sudah dianggap sebagai warisan nenek moyang.

Dalam konteks sosial bermasyarat, rasisme selalu menyerang kalangan bawah, dan mungkin menjadi tabu karena kerap dianggap sepele. Misalkan: mengejek atau meledek orang lain dengan kata-kata tak senonoh, kampungan atau kamseupay contohnya. Adapula yang membully sekelompok orang dengan kalimat-kalimat rasis seperti, “dasar miskin lo, bodoh lo, gelandangan lo, bloon lo, dasar pengangguran lo, dan lain sebagainya. Hal semacam ini seringkali terjadi di Indonesia, dimana sebahagian orang kita selalu menilai orang lain dari perspestif rasialismenya, bukan dari nalar dan akal sehat, juga tak pernah bersyukur dan menghargai ciptaan tuhan.

Sebahagian orang yang hidupnya di atas rata-rata alias mapan, kerap menilai dan melihat orang yang tak seberuntung mereka dengan pola pandang yang rasis, menaruh hipotesa dengan jutaan kecurigaannya kepada orang lain. Sebenarnya, rasisme itu telah menjebak orang-orang yang memiliki pendidikan tinggi, memiliki kemegahan hidup, juga memiliki pengalaman dan pergaulan yang luas. Maka, semua ketimpangan sosial, agama, politik, ekonomi, kita kembalikan kepada dasar dan awal mulanya rasisme itu racun kerusakan.

Sebuah sifat atau tabi’at yang sudah mendarah daging seperti perilaku rasisme akan teramat sulit untuk dihilangkan, sebab itu telah dikuasai oleh nafsu dan dibumbui oleh kebiasaan yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari. Dan tak lazim pula, menyamakan binatang dengan manusia adalah bahagian daripada perilaku rasis.

Seperti halnya kita membully orang yang bermuka buruk, tinggal di pelosok negeri, sengsara lagi miskin, juga melontarkan kalimat-kalimat rasis kepada mereka dengan sebutan Monyet, Anjing, Babi, dan sebagainya.

Di satu sisi, rasisme adalah pemicu konflik, buah pertikaian dan kerusuhan. Disebabkan oleh perlakuan dan perilaku rasis tersebut, kini di wilayah Papua sedang bergejolak, api-api rasisme itu semakin memantik kemarahan bangsa Papua yang disamakan dengan Monyet. Padahal, ini adalah bentuk persoalan kecil, namun sudah menjadi besar, juga di sisi lain orang-orang Pupua memainkan isu ini sebagai langkah awal penuntutan mereka kepada pemerintah pusat (Jakarta) dengan menyuarakan Referendum.

Belajar dari kejadian tersebut, kita dapat menyimpulkan bahwa rasisme adalah pemecah-belah kesatuan dan persatuan bangsa ini. Poin pentingnya tak lain bahwa, rasisme adalah musuh kita bersama, musuh Indonesia. Jangan sampai gara-gara perlakuan rasis sebahagian orang kepada bangsa Papua, keutuhan Indonesia menjadi terancam. Kita masih ingin selalu melihat bangsa Indonesia ini hidup rukun, damai dan tentram dalam satu wadah Pancasila.

Perlu kita ketahui, bahwa rasisme itu bagaikan budaya yang telah menjadi tradisi. Bukan hanya orang Papua saja yang menerima perlakuan rasis tersebut, Bangsa Aceh juga pernah menerima perlakuan rasis dari penduduk negeri ini, sampai dengan sekarang. Semua orang Aceh dikatakan “pungoe”. Pungoe yang bermakna gila, oleh orang luar Aceh. Dan, ini juga wujud rasisme yang tak akan pernah berkesudahan. Sampaikan kapan pembunuhan karakter dengan cara rasis itu hilang. Apakah ketika kiamat sudah datang?

*) Kinet BE, Penafsir Bahasa Arwah Gunong Gòh–Masyarakat Arus Bawah.

0Shares