Aceh AKALSEHAT Ekonomi FEATURE Knowledge Sharing OPINI

Sawit, Berkah yang Mulai Jadi Petaka

0Shares

Awalnya komoditas sawit bukanlah sebuah komoditas yang istimewa, sejak awal pembangunan perkebunan sawit pada tahun 1980-an, Harga perkilogram TBS (tandan buah segar) rata-rata hanya antara Rp. 500,- s.d Rp. 650,- (sebelum tahun 2006), bahkan banyak lahan yang diperuntukkan untuk sawit banyak ditinggal oleh para petaninya, sampai pada akhirnya pada awal tahun 2007, harga buah sawit terus bergerak naik dan mencapai angka tertinggi ± Rp. 2.000,-perkilogramnya pada tahun 2007-2008 dan sejak itu tidak pernah turun dibawah Rp. 1.000,-/kg, kecuali disaat krisis global kembali melanda dunia pada akhir tahun 2008 sampai awal tahun 2009, namun di triwulan kedua tahun 2009, harga sawit kembali stabil diatas Rp. 1.000,-/kg, membuat sawit menjadi salah satu komoditas yang menguntungkan dan semakin meningkatkan minat masyarakat untuk berinventasi pada sector ini.

Di Aceh sawit juga sudah mulai menggema di era tahun 90-an, meskipun zaman Orde Baru jenis karet masih mendominasi jengkal tanah di provinsi ujung barat pulau Sumatera itu.

Paska MoU Helsinki, perundingan damai antara GAM dan RI pada Agustus 2005, perkebunan sawit yang telah pernah ada dan sempat terlantar akibat konflik berkepanjangan antara pihak republik dan gerakan perlawanan masyarakat Aceh itu kembali di pugar dan mendapatkan perawatan kembali pemiliknya.

Sawit menjadi primadona baru sebagai komoditas pertanian di Aceh, tidak sedikit perkebunan jenis tanaman karet bahkan sempat ditebang dan digantikan tanaman bertandan tersebut.

Tanaman primadona Aceh itu seolah menjadi berkah bagi petani, ramai-ramai warga memulai tanam sawit sebagai investasi jangka panjang. Bahkan tidak sedikit serapan tenaga kerja di perkebunan berasal dari pemuda di Aceh, ada juga bahkan dari eks Kombatan, maupun berbagai unsur lainnya.

Harga TBS (Tandan Buah Segar) sawit mampu mensejahterakan petani, ekonomi Aceh bangkit paska musibah Tsunami dan konflik berkepanjangan. Ibarat pepatah, ada gula sudah tentu bersemut, harga sawit yang awalnya from zero menjelma bak sang Hero, di tahun 2007 bahkan harga TBS sempat mencapai angka 2000 rupiah dan tidak pernah turun dibawah angka 1000 rupiah hingga tahun 2009. Bak gayung bersambut iklim investasi di bidang perkebunan sawit meradang, deforestasi bahkan menjadi legitimasi bagi perusahaan pengelola perkebunan untuk membuka lahan baru bagi swasta. Belum lagi masyarakat yang terlebih dahulu sudah beraksi, tebang kelapa, tanam sawit di kebun milik sendiri.

Euforia telah berlalu untuk sepuluh tahun yang lalu, harga TBS kelapa sawit kini mulai menjelma bak petaka bagi sang pemiliknya, belum lagi buruh yang menggantungkan kebutuhan ekonominya di tandan buah segar tersebut.

Dibeberapa daerah di provinsi Aceh yang memiliki perkebunan jenis ini, pemiliknya mulai menjerit, harga TBS sudah menyentuh angka 450 rupiah perkilogramnya, dari awalnya yang masih 980 rupiah. Penurunan lebih dari 50% harga sebelumnya menjadi petaka dalam sejarah perkebunan kelapa sawit, khususnya di Aceh yang mayoritas petani sawit menggantungkan berbagai kebutuhan, mulai pupuk, perawatan, panen, angkut, hingga ekonomi keluarga dibebankan kepada TBS.

Apalacur, kabar burung pun sayup terdengar, harga CPO di Utara Sumatera masih stagnan dan tidak ada penurunan harga, baik itu secara permintaan, hello mengapa TBS diperah sedemikian rupa?, benarkah Sawit itu yang mulanya berkah, kini sebaliknya jadi Petaka bagi mereka sang pujangga buah bertandan itu?.

0Shares