Aceh AKALSEHAT OPINI Sosial Budaya

Tokoh Muda Aceh Masa Lumpoe

0Shares

Oleh Adam Zainal*

Dalam semberautnya kota, juga lalu-lalangnya kenderaan dengan bermacam deru bising knalpot, para pejuang hidup masih berkutat kokoh, bergulat dengan situasi dan kondisi. Barangkali hanya untuk segumpal beras. Tentu, karena apapun alasannya, manusia hanya butuh makan, terlepas dari mencari kebahagian, kemewahan, kesenangan dan lain sebagainya.

Seperti biasanya, disamping menyeruput segelas kopi dari pagi hari sampai petang, penikmat kopi di Nanggroe ini juga ambil andil sebagai pengamat, dan ada juga yang menjadi Pakar. Mereka terus mereka-reka tentang kondisi sosial, budaya, pendidikan, kesehatan, ekonomi, pembangunan, kebersihan, tak sedikit juga yang membahas perkara politik kekinian, serta meng-analogikannya dari sudut pandang yang beragam, sesuai dengan citarasa pahit manisnya kopi, yang diteguk sepagi tadi, lalu dihabiskan di petang hari.

Sebahagian di sana, para Pejuang nafakah itu masih bergulat dengan waktu. Menyelesaikan setiap tugas dan pekerjaannya sebelum matahari tenggelam di ufuk barat, sedang para pengamat “keude kupi” lagi antusias se-antusiasnya dalam mengamati setiap hiruk-pikuk makhluk yang bergerak, dan ber-otodidaks atas setiap narasi meja kopinya. Bahkan berkutat tegas atas setiap pundi-pundi pikirannya. Mereka tak kenal waktu, siang dan malam larut dalam pengamatan, mengamati hal-hal udik lagi unik yang sedang disodorkan oleh pemangku jabatan di Nanggroe Meutuah ini.

Kritis, iya kritis. Mereka memang orang-orang yang kritis, bahkan ada yang hiperkritis terhadap suatu persoalan yang belum tentu dipahami dengan benar. Lagipula, harus ada yang berdendang ria dan berdiri kokoh atas setiap argumentasinya sebagai bentuk pemamfaatan atau memamfaatkan situasi yang ada, (tidak membuang kesempetan), juga tak jarang pula yang secara instan ingin diakui sabagai sosok pahlawan. Barangkali menukilkan diri bak seorang tokoh sejati!

Sebenarnya, ketokohan seseorang itu dapat dilihat dari seberapa banyak orang yang menyanjunginya, atau seberapa banyak orang menyukai apa yang dia kerjakan, terlepas dari yang tidak senang kepadanya. Namun seorang tokoh tak pernah mengakui diri sebagai tokoh, serta tak juga menokoh-nokohkan dirinya sendiri untuk diakui sebagai seorang tokoh oleh khalayak. Ini adalah sebuah penilaian biasa, yang terbilang satire. Masih banyak lagi pola untuk mengatakan seseorang itu layak disebut sebagai tokoh, akan tetapi kebanyakan dari para tokoh itu tak menyukai sanjungan dan pujian, sebab dalam kamus ketokohan, sanjungan adalah makanan orang-orang dungu.

Beda halnya dengan pengamat dan pakar “keude kupi” seperti di Nanggroeku. Mereka semua adalah tokoh, tokoh muda masa Lumpoe (mimpi). Bukan masa kini. Sebab, ketokohan bukan di nilai dari sesering apa kita bersenggima dengan Microphone, dan Toa. Ketokohan bisa di kaji dari sebesar mana ia mampu meredam amarahnya, juga meredam amarah orang lain untuk tidak berlaku semena-mena sesuai dengan tiraninya, juga tidak ceroboh dalam bersikap mengenai berbagai persoalan yang terjadi.

Cukuplah! Sebenarnya saya bukan sedang membicarakan para pengamat keude kopi, saya hanya sedang memceritakan semangat tulus para pejuang hidup di nanggroe ini yang saban hari dan malam masih berjuang untuk menghidupi keluarganya, tanpa mengenal waktu, terik, dan hujan. Disamping mereka tak peduli dengan persoalan yang sedang menimpa.

Ketika ada yang berdikari atas narasi dan kritisasinya, mereka (para pejuang nafkah) tetap berdiri pada titik dan prinsipnya, serta terus bergulat dengan waktu, juga berkutat atas segumpal beras untuk anak istrinya di rumah, tanpa berkeluh asa atas suratan takdir dan kedikdayaan yang sedang terjadi. Maka tak salah juga jika kebanyakan orang yang seringkali kita anggap apatis berkata lantang.

“Gubernur dumsoe jeut, buet tanyoe tetap tarek Becak.” Artinya, tiada perubahan yang signifikan yang terjadi di Nanggroe ini, walaupun Gubernurnya seorang Profesor, Doktor, Insiur dan sebagainya.

*) Kinet BE, Penafsir bahasa arwah gunong Goh, Masyarakat arus bawah.

0Shares