Aceh FEATURE Knowledge Sharing Sosial Budaya

“Ulee-Punggong”, Mantra Magic yang Belum Memudar di Aceh

0Shares

Aceh.news | Seorang teman berjalan kesana-kemari sambil mulutnya komat-kamit melafalkan sebuah frasa kata berulang-ulang. Saya menyaksikan kelakuan seorang teman itu sekira 15 menit sudah melakukan aktivitas yang mencurigakan tersebut.

Dia sesekali memperhatikan ke arah saya yang sedang duduk di pojok sebuah warung kopi malam itu. Sambil tersenyum, seakan Dia tahu saya sedang memperhatikan gerak-geriknya tadi itu.

Tetiba, salah satu pintu toilet di warkop itu terbuka, seorang pria keluar dari dalam bilik usai membuang hajat dalam bilangan waktu yang cukup lama.

Teman saya tadi, bagai dikejar setan. Ia segera mungkin menuju bilik dan pintu pun ditutup dengan cepat.

Sekitar tujuh menit berada di dalam, Ia keluar dengan senyum sumringah, seakan beban yang dipikulnya 10 menit yang lalu sambil mondar-mandir tak ada lagi.

Tiba di pojokan tempat kami duduk sambil minum kopi, saya mencoba menanyakan hal yang tadi saya perhatikan pada sikapnya yang mencurigakan itu.

“Peujuet buno Ngon?, Kukaloen susah neuh that, pu na masalah?” Tanya Saya pada karib yang tertawa mendengar pertanyaan itu.

“Pane na, that brat Saket ek kuh, kama manoe penoh mandum, kujak-jak, bek jiteubit lam siluweu”, jawabnya spontan yang membuat Saya terbahak mendengar jawaban sang teman.

“Teuma, peujuet babah lage ureung meurateb, pu nuhafai doa tunda Saket ek?” Tanya saya yang masih penasaran pada komat-kamit mulut sang teman yang tadi layaknya menghafalkan sebuah mantra ghaib.

“Njan, bek neupeuriyoeh, kukhuen ‘Ulee-Punggong’ buno, biasajih meutheun wate ta amalkan!”, Jawabnya, sembari meminta hal itu untuk dirahasiakan membuat saya terkekeh lagi.

Jawaban itu membuat Saya mengulang memori awal semasa masih duduk di Sekolah dasar dulu. ‘Ulee-Punggong’ adalah frasa kata yang diajarkan oleh orang-orang tua dulu kepada anaknya yang hendak pergi ke sekolah.

Dikhawatirkan, bila di sekolah anaknya bakal sakit perut dan buang hadas besar yang tentu merepotkan, apalagi sang anak belum terbiasa menyucikan hadas sendiri. Maka si Ibu memberi wejangan seperti itu kepada anaknya, sambil memperaktikkan posisi tangan berada di pantat, sembari mengatakan ‘Ulee’ yang berarti kepala. Kemudian Posisi tangan berada di kepala, dengan mengatakan ‘punggong’ yang berarti pantat. Hal itu pun dipraktikkan berulangkali.

Seolah mantra itu pun bekerja membalikkan keadaan, niat hadas besar yang sudah hendak terjun bebas pun memudar dengan sendirinya. Mantra bekerja dengan baik, dan itu majic.

Terbukti, frasa itu juga sempat beberapa kali menyelamatkan Saya dari sesaknya hadas besar dan tak nyaman bila di sekolah.

Malam itu, Saya menemukan seorang teman menggunakan kembali frasa majic popular di masa kecil, dan ternyata Ia yang sudah dewasa juga menyakini, ‘Ulee-Punggong’ menjadi salah satu mantra magic yang sering menyelamatkan dirinya dari niat buang hadas besar yang tetiba datang, namun tidak tersedia toilet di sekitarnya. Wallahu’aklam.[]

0Shares