Aceh BERITA

Bom BEJ, Keterlibatan Disertir TNI-AD Lumpuhkan Pusat Perekonomian Ibukota 19 Tahun Lalu

0Shares

Aceh.news | Situasi perekonomian Indonesia paska reformasi labil, krisis moneter paska runtuhnya Orde Baru dibawah kepemimpinan Presiden ke-2 RI Soeharto terus mewarnai media nasional kala itu. Di daerah, beberapa provinsi disebut sempat terjadi kerusuhan dan pengrusakan. Bahkan Aceh lebih parah, Gerakan Aceh Merdeka digaungkan secara besar-besaran paska dicabutnya status Daerah Operasi Militer (DOM) dengan sandi Jaring Merah semenjak 1989 hingga 1998.

Konflik di daerah merambah hingga ke nasional, dua tahun setelah lengsernya Soeharto, tepatnya 19 tahun lalu, Rabu 13 September 2000, Diduga beberapa pria asal Aceh mengguncang ibukota Jakarta. Sebuah Bom meledak di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ) salah satu pusat perekonomian internasional di ibukota.

Aktivitas ekonomi di Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang tenang berubah mencekam. Sore itu, sebuah ledakan dahsyat meluluhlantakkan pusat bisnis dan keuangan di Jakarta.

Kobaran api dan asap hitam membumbung tinggi. Orang-orang menangis histeris dan berhamburan dari dalam gedung. Korban jiwa pun berjatuhan. Sedikitnya 10 orang tewas dan puluhan lainnya terluka akibat ledakan tersebut.

Tragedi berdarah itu terjadi sekitar pukul 15.17 WIB. Ledakan berasal dari sebuah bom yang ada di dalam mobil Toyota Corona Mark II bernopol B 2676 WL di tempat parkir P2 Gedung BEJ.

Kepolisian bergerak cepat menyelidiki insiden tersebut dengan memeriksa saksi-saksi dan barang bukti. Hasilnya, selang 12 hari setelah kejadian, polisi berhasil menangkap enam orang pelaku. Mereka adalah Tengku Ismuhadi Jafar, Irwan alis Irfan, Ibrahim Hasan, Iswadi H Jamil, Ibrahim AMD bin Abdul Wahab, dan Nuryadin.

Ismuhadi merupakan pemilik bengkel Krung Baro di Ciganjur, Jakarta Selatan, lokasi pembuatan bom. Mantan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM) itu disebut-sebut sebagai otak pelaku pengeboman.

Bom berbahan peledak TNT dan RDX itu dirakit oleh dua oknum anggota TNI, yakni Serda Irwan dan Praka Ibrahim Hasan. Irwan juga menjadi operator bom bersama Ismuhadi.

Irwan kala itu merupakan anggota Grup V Komando Pasukan Khusus (Kopassus) sedangkan Ibrahim anggota Detasemen Markas Komando Strategi Cadangan Angkatan Darat (Kostrad).

Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Tyasno Sudarto menyatakan, kedua prajuritnya tersebut sebagai disertir. Menurutnya, kedua prajurit tersebut memiliki catatan merah.

“Serda Irwan dari Kopassus itu sedang dicari-cari satuannya karena beberapa minggu desersi,” katanya.

Sedangkan Ibrahim disebut dalam pengawasan Provost Kostrad. Sebagai prajurit TNI, perilakunya dianggap tidak terpuji, salah satunya kawin cerai.

Pada akhirnya, Irwan dan Ibrahim divonis hukuman penjara seumur hidup oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu 22 Agustus 2001. Saat vonis diketuk, Ibrahim menjadi buronan setelah kabur dari tahanan. Irwan juga sempat berupaya kabur dari Rutan Cipinang, namun gagal.

Vonis majelis hakim PN Jakarta Selatan lebih dulu dijatuhkan kepada Ismuhadi pada Senin 20 Agustus 2001. Pemilik bengkel Krung Baro yang digunakan sebagai lokasi merakit bom BEJ itu divonis hukuman 20 tahun penjara.

Kala itu pihak kepolisian mengklaim motif pengeboman BEJ ditenggarai berlatarbelakang faktor ekonomi. Dilihat dari hasil rekonstruksi, para pelaku ingin cepat kaya dengan memanfaatkan suasana tak aman. Maklum, kala itu pelaku memiliki sejumlah uang dolar Amerika Serikat.

Pemilihan lokasi peledakan di BEJ lantaran pelaku menilai tempat itu menjadi lalu lintas perekonomian internasional. Kondisi kacau tersebut diyakininya dapat mengerek nilai tukar dolar AS terhadap rupiah hingga membuat perekonomian Indonesia terganggu.

Reka ulang pada Sabtu 4 November 2000 mulai pukul 10.00 WIB itu diawali dari bengkel Krung Baro, Ciganjur, Jakarta Selatan yang menjadi tempat digelarnya diskusi pada 8 September 2000. Pertemuan di sana memang merencanakan aksi peledakan. Hadir saat itu, pemilik bengkel, Tengku Ismuhadi, juga Ibrahim Manaf, Ibrahim Hasan dan Sayed Mustopha.

Tindak lanjut pertemuan tersebut hari berikutnya 12 September, Sayed Mustopha dan Zulkifli membawa bahan TNT dan RDX untuk dirakit menjadi bom. Perakitan bom dilakukan tersangka Irwan dibantu Ibrahim Hasan.

Selanjutnya, pada hari itu juga tepatnya pukul 10.00 WIB, bom diletakkan dalam bagasi sedan Corona Mark II warna merah oleh Nuryadin. Sedan tersebut dikemudikan Irwan dan diikuti mobil Suzuki Sidekick ungu yang dikendarai Ibrahim Hasan, di dalamnya ada Ibrahim Manaf dan Tengku Ismuhadi.

Sebelum mengarah ke tempat tujuan, rombongan singgah dulu di BNI dan BCA Cilandak untuk menukar uang milik Tengku Ismuhadi sebanyak Rp 325 juta dan Rp 100 juta milik Ibrahim Manaf ke dalam dolar AS. Dengan harapan, apabila usaha mereka berhasil, dolar akan melonjak.

Selanjutnya, sedan merah meluncur dan masuk ke lantai P2 (parkir) Gedung BEJ. Tersangka Irwan kemudian keluar meninggalkan kendaraan yang telah memuat bom. Irwan langsung menuju mobil Suzuki Sidekick yang telah menunggu. Ketika peledakan terjadi, para tersangka sempat menyaksikan. Bahkan, karena jalan tertutup mereka masuk ke halaman dalam Polda Metro Jaya untuk berbalik arah.

Dalam keterangannya di Polda Metro Jaya, Ismuhadi mengatakan, semula peledakan akan dilakukan pukul 12.00 WIB. Menurut dia, peledakan kemudian dilakukan pada pukul 15.30 WIB dengan alasan, bila dilakukan siang hari akan banyak menelan korban. Kendati, Ismuhadi menolak dituduh sebagai otak di balik tragedi tersebut.

Sementara itu, Direktur Utama BEJ Mas Achmad Damiri kala itu mengatakan, ledakan bom ini membuat perdagangan di BEJ langsung dihentikan. Saat dihentikan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dibuka pada posisi 451,045 ditutup melemah 954 poin pada level 442,091.

Menurut Damiri, sebelum terjadi ledakan, BEJ sudah sering mendapat ancaman pengeboman. Tapi, baru saat itu teror tersebut benar-benar nyata.

Sumber : Liputan6

0Shares