Aceh BERITA Dunia Ekonomi Pase

Harga Menguat, Petani Karet Mulai Bergairah di Aceh Utara

0Shares

Lhoksukon | Anews — Meski komoditas pertanian tanaman karet tidak sejaya masa di era tahun 90-an di kawasan Utara Aceh, namun petani di daerah ini masih menjadikannya sebagai salah satu komoditi pertanian eksport masyarakat setempat.

Seperti halnya di kawasan pemukiman Gampong Sukaramai, Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara. Komoditas pertanian karet masih menjadi alternatif warga sebagai salah satu hasil pertanian yang diperhitungkan.

Kawasan pemukiman yang berada di daerah perkebunan PT Satya Agung ini, masih membudidayakan tanaman karet dan menderes getahnya hingga saat ini untuk menghasilkan pundi rupiah.

Pantauan Anews, perkebunan karet di daerah ini terbilang ada yang masih baru, dan juga ada yang merupakan tanaman yang sudah produktif bertahun.

“Tahun lalu, harga karet sempat anjlok di harga Rp 3000 per kilogramnya, kami disini sempat memotong pohonnya untuk dijual sebagai kayu bakar pembuatan batu bata, karena putus asa harganya anjlok sekali” Ujar Sukirman kepada Anews, Selasa (21/05/2019).

Petani yang memiliki areal perkebunan karet sekita 3 Ha ini pun menjelaskan bahwa tahun ini harga karet mulai membaik, sehingga tidak lagi ada penebangan pohon karet seperti di tahun sebelumnya.

“Pertama naik harganya kemarin itu di awal Januari Rp. 5000, kini sudah bertahan di harga Rp. 7000 hingga Rp. 7500, sudah beberapa bulan harganya bertahan seperti itu, sudah mulai bersemangatlah kami petani ini bang” pungkasnya.

Dilansir Anews dari laman Bisnis.com, Harga karet dunia menguat tajam, pada perdagangan Selasa (21/5/2019), menyusul kecemasan pasar terhadap gangguan produksi di China, salah satu produsen karet terbesar di dunia.

Berdasarkan data Bloomberg, hingga pukul 13:15 WIB, harga karet kontrak pengiriman Oktober 2019 di Tokyo Commodity Exchange (Tocom) telah menguat 1,99% atau 3,80 poin ke level 194,30 yen per ton.

Mengutip Bloomberg, harga karet menguat karena perhatian para trader tertuju pada gangguan suplai dari China akibat cuaca panas. Sentimen tersebut pun mengabaikan laporan produksi otomotif China jatuh pada April tahun ini. Produksi kendaraan di China dilaporkan tergelincir 14,4% pada April tahun ini dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, persediaan karet di Shanghai dikabarkan meningkat tipis 0,4% menjadi 431.384 ton secara mingguan, pada pekan lalu. Kenaikan harga minyak mentah dan pasar saham China juga menjadi sentimen positif bagi harga karet. Saham China menjadi yang terkuat di Asia pada Selasa (21/5/2019) kendati ada peringatan bahwa China dapat membalas langkah Presiden AS Donald Trump memasukkan Huawei Technologies ke dalam daftar hitam.

Terkait dengan gangguan cuaca, gelombang panas yang melanda provinsi Yuan, pemasok setengah produksi karet alam China, telah menciptakan kondisi kerja berbahaya dan meningkatkan risiko hama. Hal tersebut mendorong Jiangcheng Rubber untuk berhenti menyadap karet.

Badan meteorologi setempat memperingatkan bahwa suhu akan tetap berada pada level 40 derajat celsius di beberapa bagian Yunan.

Jia Zheng, manajer portofolio di Shanghai Minghong Investmen Co. mengatakan bahwa harga karet dalam kondisi bullish di Shanghai di tengah banyak spekulasi, produksi di Yunan akan berkurang secara besar-besaran karena cuaca panas.

Menurut Jia, gangguan itu merupakan masalah besar bagi masa depan bagi Shanghai, karena karet yang diproduksi di dalam negeri biasa digunakan untuk penyelesaian kontrak fisik.

China merupakan produsen karet alam yang signifikan, dengan produksi sekitar 800.000 ton pada 2016. Pada saat yang sama, mereka juga konsumen karet terbesar di dunia. International Rubber Study Group menyatakan, dunia memproduksi sekitar 14 juta ton karet alam tiap tahunnya.

Sentimen positif juga datang dari Thailand. Negeri Gajah Putih itu dilaporkan akan memangkas ekspor karet mereka sebesar 126.240 ton pada pekan depan untuk 4 bulan, setelah penundaan dalam mengimplementasikan perjanjian pemangkasan pasokan dengan produsen regional lainnya.

Thailand semestinya telah memotong ekspor karet alam pada 1 April lalu, bersama dengan Indonesia dan Malaysia. Tanggal itu merupakan kesepakatan oleh Dewan Karet Tripartit Internasional (ITRC) yang terdiri atas tiga negara tersebut, pada Maret lalu.

Ketiga negara tersebut menyumbang sekitar 70% dari produksi karet alam dunia. Mereka memutuskan untuk pengurangan ekspor 240.000 metrik ton secara kolektif untuk mendukung penguatan harga karet.

Gubernur Otoritas Karet Thailand Yium Tavarolit mengatakan, Thailand, pengekspor karet utama dunia, menunda langkah itu karena berbarengan dengan pemilihan umum pada Maret lalu. Pihaknya berjanji akan memangkas ekspor karet antara 20 Mei dan 19 September. “Thailand akan berjalan sesuai kesepakatan tiga negara, dan akan menilai hasilnya tiap bulan,” katanya kepada Reuters pekan lalu.

Dia menambahkan, jika harga karet belum bergerak, maka pihaknya harus meninjau ulang ukuran pemangkasan tersebut.

Sebelumnya, kesepakatan serupa juga pernah diterapkan oleh ITRC pada akhir 2017 dengan memotong ekspor karet alam sebesar 350.000 ton selama tiga bulan.

Selain mengekang ekspor, kelompok ini juga sepakat untuk mencoba secara signifikan meningkatkan penggunaan karet domestik di masing-masing dari tiga produsen melalui pengembangan seperti aspal karet.[]

0Shares