Aceh AKALSEHAT BERITA Industri dan UKM Knowledge Sharing Nasional Teknologi

“Pajoh Bu Lam Situk”, Bakal Jadi Trend Kekinian di Indonesia

0Shares

Aceh.news | Pajoh Bu Lam Situk (Makan nasi di dalam pelepah pinang) sudah dikenal semenjak dulu bagi masyarakat di Aceh, terlebih mereka yang tinggal di kawasan perkebunan budidaya pinang.

Pelepah pinang merupakan bagian dari pohon pinang. Biasanya pelepah ini melindungi bagian dalam pohon pinang. Setelah kering, pelepah pinang ini akan jatuh dengan sendirinya. Namun karena memiliki bentuk yang sesuai untuk sebuah wadah, tak jarang pelepah pinang dijadikan untuk berbagai kegunaannya.

Bila terkadang ada diantaranya membawa bekal ke kebun dan jumlah wadah untuk mereka tidak tercukupi, sering pelepah pinang dijadikan sebagai pengganti piring. Disitulah “Pajoh bu lam situk” menjadi semacam dagelan biasanya bagi mereka yang tidak kebagian piring untuk santap siang.

Masyarakat di provinsi Jambi ternyata juga penghasil pinang di Indonesia, menariknya sejumlah pelepah pinang di provinsi Jambi ini di eksport hingga ke manca negara, bahkan mulai dimanfaatkan sebagai piring yang terbuat dari pelepah pinang, tentu saja berbeda dengan yang tersedia di provinsi Aceh.

Piring pelepah pinang memiliki tekstur yang unik. Piring tersebut lebih ramah lingkungan dan akan menggantikan fungsi dari styrofoam. (KOMPAS.com/RENI SUSANTI)

Melansir Kompas, dari data yang dimiliki Institut Teknologi Bandung ( ITB), tanaman pinang di Jambi mencapai 17.000 hektare.

Selain memiliki banyak produk unggulan, antara lain kepala bulat, cangkang sawit, karet, dan kayu olahan. Produk-produk tersebut bahkan diekspor ke luar negeri. Namun sayangnya, sebagian produk diekspor dalam bentuk bahan mentah. Salah satunya pelepah pinang.

“Dulu, pelepah pinang di Jambi dibuang begitu saja. Kalau nggak, dibakar,” ujar staf ITB Jaenal Arifin kepada Kompas.com di Bandung, Kamis (12/12/2019) kemarin.

Hingga suatu hari, sejumlah UKM di Jambi mengetahui, ada negara yang membutuhkan pelepah pinang.

Mereka akhirnya mengekspor pelepah pinang ke India dalam bentuk mentah. Di sisi lain, Indonesia tengah bermasalah dengan sampah. Banyak sampah yang dibuang begitu saja padahal masih bisa diolah.

Piring pelepah pinang memiliki tekstur yang unik. Piring tersebut lebih ramah lingkungan dan akan menggantikan fungsi dari styrofoam. (KOMPAS.com/RENI SUSANTI)

Melihat pelepah pinang yang belum termanfaatkan maksimal, Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Desain Produk ITB menginisiasi pembuatan produk.

Produk tersebut dinamai piring pelepah pinang. Cara kerjanya, pinang yang dibeli dari petani dibersihkan.

Karena pelepah pinang dari petani sangat kering, pelepah dicelup ke dalam air kemudian dimasukkan ke dalam mesin untuk di-press tiga menit dengan suhu 130 derajat.

“Bisa juga hanya 1-2 menit, tinggal dinaikkan suhunya. Mesin inilah yang dibuat ITB,” ungkap Jaenal. Setelah di-press, piring sudah langsung terbentuk dan terlepas dari mesin. Satu lembar pelepah pinang bisa dibuat 3-4 piring.

“Harga pelepah pinangnya dari petani Rp 400 per lembar. Jadi potensi bisnisnya besar,” tutur dia.

Berbeda dengan styrofoam, tekstur pelepah pisang ini sangat unik. Terlihat serat pelepah berwarna coklat ataupun hitam yang cantik.

Tak hanya itu, baunya pun khas. Bila dicium akan terendus aroma alam atau hutan tropis. Bentuknya pun lebih tebal dari styrofoam.

Bahan alami inilah yang membuat piring pelepah pinang aman digunakan untuk berulang kali. Kecuali untuk makanan berkuah, hanya bisa sekali pakai.

“Kalau untuk makanan kering seperti camilan, bisa digunakan hingga 10 kali. Tinggal cuci saja,” ucap dia.

Piring tersebut hingga kini masih mencari pasar. Salah satu kerja sama yang sudah terbentuk adalah dengan Bali.

“Sudah ada lima mesin (pembuat piring pelepah pinang) yang disebarkan ke UKM di Jambi,” kata Jaenal.

Ia berharap, pengembangan ini bisa mengurangi sampah dan menghasilkan pendapatan lebih bagi para UKM di Jambi.

Sumber : Kompas

0Shares