Aceh AKALSEHAT FEATURE Pase

43 Tahun Milad GAM, Ketika Aneuk Syuhada Aceh Mencoba Berdamai dengan Masa Lalu

0Shares

Oleh Dili Munanzar*

Hari itu, gelagat perjanjian damai yang akan disepakati oleh perwakilan Pemerintah Republik Indonesia (RI) dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sepertinya akan berhasil, setelah sebelumnya beberapa perundingan berakhir dengan caos di lapangan, belum lagi sejumlah perunding yang mewakili GAM ditangkap dan ditetapkan sebagai Tapol/Napol.

Pada 15 Agustus 2005, awal menjadi sejarah baru bagi pergolakan di Aceh yang sudah berlangsung selama tiga dekade. Banyak negara dari dunia luar menjadi tim pemantau internasional yang dilibatkan dalam perjanjian yang akan digelar di Helsinki, Finlandia. Sambil mengelap meja-meja di warung kopi, sesekali mata memperhatikan layar televisi.

Siang itu pengunjung warung kopi Gampong milikku dan keluarga dipadati warga, sembari menikmati kopi mereka ingin tahu perkembangan proses perjanjian damai yang sedang berlangsung di Helsinki Finlandia pada hari itu.

Meski sebahagian orang menyambut gempita, jabat tangan antara kedua belah pihak yang telah mengorbankan ribuan nyawa di Aceh tak terlalu membuatku senang. Ada sesuatu yang mengganjal dalam batin waktu itu, apa gunanya berperang jika akhirnya berjabat tangan dengan musuh, sungguh perjuangan yang merugi, pikirku.

Abu syahid dalam sebuah pertempuran di kawasan buket sentang, Lhoksukon, Aceh Utara pada 16 Januari 2004. Abu adalah disertir TNI-AD yang bergabung dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di tahun 2000, bersamanya turut dilarikan 3 pucuk senjata dari markas Komando Distrik Militer 0103 Aceh Utara.

Berlabuh dalam Gerakan Aceh Merdeka, Abu yang kesehariannya sebagai serdadu militer telah menjadi pembangkang kepada Negara yang pernah ia jaga kedaulatannya. Setidaknya, Abu pernah diterjunkan dalam Operasi Seroja di tahun 1986-1987 ke Timor-timur (kini Timor Leste), ketika mempertahankan salah satu provinsi yang akhirnya lepas dari genggaman NKRI .

Pagi naas itu berita Abu tewas tertembak menyerebak luas di kalangan warga, beberapa siaran televisi dibuka untuk mencari keabsahannya. Aku masih belum percaya, sembari memasang beberapa bawut motor untuk body setelah mencucinya, kabar angin itu tak kutanggapi serius.

Hari Jum’at itu, Aku seakan diburu oleh waktu, satu bawut patah. Aku harus pergi ke sebuah bengkel las untuk memperbaikinya. Karena kendaraan tua, kalau tanpa body sudah pasti tampilannya kurang menarik, keluhku dalam hati.

Sudah beberapa kali batang besi api las dihidupkan, namun tak ada solusi sepertinya untuk mengeluarkan setengah bawut patah yang tinggal di dalam lubang tersebut. Hingga waktu sudah menjelang Jum’at, motor masih belum dapat diperbaiki.

Mungkin itu pertanda, Aku masih tak menanggapi kabar jikalau Abu telah pergi untuk selamanya.

Bakda Jum’at seperti hari biasanya, Aku membuka plang pintu warung, usaha ini adalah satu-satunya cara kami bertahan hidup di kampung paska Abu naik gunung. Sesekali bila Abu berada di kampung, membawa puluhan bungkus rokok untuknya tak akan dicurigai, setidaknya usaha itu membantu ekonomi dan keamanan kami sebagai keluarga yang dianggap separatis itu.

Apacut (panggilanku untuk adik lelaki Abu) tiba dan memarahiku, ia tak pernah marah sebelumnya. Namun hari itu raut wajahnya lebih legam dan matanya memerah, berbeda dari hari biasanya.

Abu benar sudah tiada, adik ibu yang bertugas di salah satu Dinas di Pemerintahan kota Lhokseumawe sudah memastikannya, jasad Abu sudah dibawa ke markas Kodim Aceh Utara dan menanti keluarga yang datang untuk mengambil jenazahnya.

Dari keluarga Abu tak ada yang berani, menjemput jenazah GAM untuk disemayamkan bukanlah pekerjaan sosial yang disukai, bukannya menjemput jenazah, sebaliknya harus menginap untuk diinterogasi lebih lanjut oleh pihak aparat keamanan.

Masa sudah berlalu dua jam, belum ada yang berani untuk menjemput jenazah Abu, akhirnya aku putuskan untuk menjemput sendiri jenazah Abu. Ibu sempat melarang, namun yang kutahu Abu membutuhkan tempat sesegera mungkin untuk disemayamkan.

Pak Cik (Seorang sepupu Abu) yang berdomisili di ruas jalan Medan-Banda Aceh datang, beliau mengabarkan jenazah Abu sudah diurus oleh Adik Ibu di Kodim bersama Tim dari Palang Merah Indonesia (PMI). Selanjutnya, sedang dalam perjalanan menuju Gampong Matang Kumbang, Baktya, Aceh Utara.

“Puji syukur, Alhamdulillah, Abu meupat jrat”, satu kalimat yang terketus di kepala.

Satu Dekade pergolakan di Aceh berlangsung, banyak diantara korban dari pihak yang bertikai tidak didapati pusaranya, hal inilah yang sangat Aku tak inginkan terjadi pada Abu.

Suara Ambulance PMI memasuki jalan Gampong, sekitar 500 meter dari jalan nasional Medan-Banda Aceh.

Sesak, warga mengerumuni kediaman kami untuk menyaksikan jasad Abu secara langsung yang tiba pukul 16.09 WIB sore itu.

Kantong mayat berwarna kuning diturunkan dari mobil PMI. Jasad Abu dalam kantong tersebut. Kumandang shalawat bergema, warga melantunkannya sembari memegang pundak ku untuk tabah dan terus ratibkan asma Allah.

Tiba di dalam rumah, kantong mayat Abu kubuka. Aku melihat senyum Abu seolah ia berisyarat “Aceh Sumatra, Mardheka..!”

Hari itu adalah saat tersulit yang harus diterima dalam hidup, Abu pergi untuk selamanya dalam cita dan pengorbanan mulia.

Aku mencoba tegar, usiaku saat itu masih 18 tahun, dan sangat labil. Tangisan itu pecah, ingin segera menuntut balas atas kepergian Abu.

Ratib dan ucapan nasihat keluarga mendamaikan hati dan pikiran, jenazah Abu harus segera disemayamkan.

Satu lubang peluru tampak menembus tenggorakan Abu hingga pundak belakang, tak ada lubang menganga, hanya sekecil lubang pena. Tampak betis Abu terluka, ada sayatan pisau disamping tulang menganga. Dua lubang dan luka itu menjadi ingatan tak terperi untuk selamanya.

Enam belas tahun sudah peristiwa itu berlalu, damai di Aceh pun sudah terajut 14 tahun lamanya. Milad Gerakan Aceh Merdeka ke 43 tahun hari ini dirayakan. Jika ditanya tentang luka Terperi itu masih ada atau tidak?, Aku menjawabnya ada!. Namun, Aku memilih berdamai dengan masa lalu.

Saat ini Aku memiliki sebuah keluarga kecil, satu anak lelaki dan seorang balita perempuan yang imut. Perdamaian yang abadi sudah selayaknya dirasakan oleh anak-anak kita.

Pendidikan, kehidupan yang lebih baik secara ekonomi adalah sebuah keniscayaan, dan yakin akan semua sudah ditetapkan untuk kita, meski ada pengorbanan ribuan nyawa Bangsa Aceh sebelumnya.

Selamat Milad Gerakan Aceh Merdeka ke 43 tahun, mengenang jasa syuhada adalah sebuah keharusan. Damai yang sudah dipersembahkan adalah modal awal melanjutkan masa depan Aceh yang lebih baik, Semoga![]

*) Aneuk Syuhada Gerakan Aceh Merdeka wilayah Pase, Owner & Founder “Rujak Salak Pliek khas Bireuen” di Kota Lhokseumawe.

0Shares