Aceh FEATURE Knowledge Sharing Nasional Pase

Darurat Militer, In Memoriam Kami

0Shares

Dua tahun adalah waktu yang singkat menyembunyikan identitas sebagai pelajar di Ibukota Banda Aceh, berstatus anak dari seorang pentolan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang dikenal sebagai Gerakan perlawanan terhadap Negara di provinsi paling barat pulau Sumatera menyebabkan nasib kami harus bersembunyi dan menjalani rutinitas tidak selayaknya pelajar di masa remajanya.

Mei 2003 adalah bulan penuh berkah, awalnya saya berpendapat demikian, setelah dikarantina selama dua tahun di Ibukota, akhirnya ibu membawa saya kembali ke kampung, tak betah lagi menjalani program studi sambil sembunyi di Islamic Boarding School menjadi alasan  untuk bisa sekolah di kampung saja, selain bisa dekat dengan keluarga, jika kemungkinan terburuk terjadi bagi Bapak, saya berada di kampung dan bisa langsung menggotong jenazahnya, ketimbang di Ibukota, kondisi Aceh dalam konflik, perang bisa pecah dimana saja, dan kapanpun, sudah pasti terkendala untuk pulang melihatnya, itu kemungkinan terburuk setidaknya yang menurut saya ada sisi positifnya.

Meski awalnya Bapak sempat marah atas kepulangan saya–saat beliau sedang susah cari persembunyian–saya pulang dengan keinginan untuk bisa sekolah di kampung, tentulah itu beban baginya, karena bila menetap di ibukota keamanan saya lebih terjamin di Dayah Terpadu yang diasramakan, itu setidaknya asumsi Bapak. Saya tetap pada pendirian untuk ingin sekolah dan tinggal dirumah saja dan tetap tak mau kembali ke Kuta Radja.

Bapak saat itu sedang gencar menjadi incaran tentara, keberadaannya mulai terendus serdadu republik, beberapa kali perundingan yang gagal dicapai, baik itu semasa CoHA, Join Council Meeting 1, 2 dan lain sebagainya–saat jeda kemanusiaan waktu itu Bapak sering berbaur dengan serdadu Koramil dalam keseharian– waktu itu GAM dan TNI bahkan bisa saling bertemu sambil minum kopi di warung-warung selama gencatan senjata.

Semenjak beberapa perundingan antara GAM dan RI kandas ditengah jalan,  statusnya sebagai Disertir TNI AD ketubuh Gerakan Aceh Merdeka (GAM) menyebabkan Ayah saban hari tidak berada di rumah–dua, tiga desa lainya– menjadi pos tetapnya bersama sejumlah Anggota GAM lainnya di Sagoe Kulam Meudailat, Daerah 4 wilayah Samudera Pase (kalau tidak salah saya).

Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri mengumumkan Darurat Militer 19 Mei 2003, melalui Menkopolhukam Susilo Bambang Yudhoyono. Bagi republiken persoalan Gerakan Aceh Merdeka tidak akan selesai di meja perundingan, jalan satu-satunya untuk menumpas gerakan sporadis itu adalah Darurat Militer.  Tersiar kabar 30 ribu pasukan TNI BKO dan 12 ribu pasukan Polri BKO telah disiapkan untuk membasmi gerakan yang dianggap sebagai penggangu stabilitas NKRI masa itu.

Pagi menjelang ditetapkannya Darurat Militer, kebetulan Bapak berada dirumah seharian, matanya hanya tertuju pada siaran televisi di ruang nonton keluarga di rumah–latihan pasukan Raider yang akan ditugaskan ke Aceh saat itu disiarkan oleh Metro TV–tatapannya tak bergeming, beliau terlihat fokus dengan siaran televisi siang itu.

Setelah pengumuman darurat militer kemarin, Bapak mulai menetap ke daerah kebun kosong di bantaran sungai kampung sebelah, kebun itu milik nenek yang sudah mulai kami tanami tumbuhan cabai, diantara rimbunan pohon bambu ayah mempersiapkan sebuah lubang (kurok-rok)–lubang dengan diameter tubuh tambun dewasa itu berkedalaman tiga meter–disiapkan untuk kemungkinan bersembunyi dadakan, lubang itu hanya muat untuk satu orang dengan posisi tegak berdiri.

Apacut (adik Bapak) sudah seharian mempersiapkan replika lubang buaya itu, paman saya itupun sudah mempersiapkan segala kebutuhan Bapak, beruntungnya kami dilindungi oleh masyarakat Gampong Matang Kumbang, Matang Kareung, Matang Lawang. Adalah tiga Gampong yang menjadi persembunyian Anggota GAM bersama Bapak di kecamatan Baktya, Aceh Utara.

Identitas kami tersembunyi dan aman, meski hampir semua warga Gampong serta perangkat, begitu  juga Geuchik, beliau tau bahwa kami keluarga GAM, namun tidak ada yang membocorkannya ke Koramil maupun Polsek yang hanya berjarak 1 kilometer dari Gampong. Bahkan semenjak penguasa Darurat Militer NAD saat itu, Mayjen TNI Endang Suwarya mewajibkan masyarakat Aceh menggunakan KTP Merah Putih, sekeluarga kami mendapatkan surat keramat alias nyawa kedua di masa darurat militer itu tanpa kesulitan sama sekali.

Rekomendasi Geuchik, Cap lima jari di Koramil, hingga pengambilan gambar dan tanda tangan di Polsek untuk surat nyawa itu saya jalani pertahapnya, tidak ada soalan dan saya membawa pulang KTP Merah Putih dengan selamat, meskipun sempat pucat pasi berhadapan dengan para penguasa Darurat Militer ditingkat kecamatan waktu itu.

Tiga bulan Darurat Militer berlalu, Sebuah Bale di kebun nenek itu selesai, keseharian Bapak tanpa naik ke tampu (gunung), meskipun sedang gejolak konflik yang luar biasa di berbagai kawasan Aceh paska ditetapkannya Darurat Militer. DAS sungai kecoklatan Alue ie Puteh  menjadi saksi, Bapak keseberang dan kembali ke kebun, itu-itu saja cara Bapak mengelebaui aparat jika sedang berada di Gampong maupun Gampong seberang sungai (Pucok Alue), rumah keluarga Bapak di bantaran sungai pun menjadi tempatnya istirahat, keluarga Bapak sangat ikhlas, mereka setia menampung Bapak yang dikejar aparat keamanan meskipun resiko tinggi, namun keluarga tetap keluarga bagi mereka.

Saya menyembunyikan identitas dengan rapat, bahkan guru disekolah baru saya tidak ada satupun yang tau kalau saya adalah anak GAM, meskipun jarak sekolah SMA Negeri 1 Lhoksukon hanya beberapa meter dengan salah satu pos taktis aparat.

Dentuman mortir, bisingnya rentetan tembakan, hanyir darah akibat mesiu seolah menjadi tontonan di masa itu, was-was sebagai anak GAM menyelemuti saban hari, tiada yang tau apa yang terjadi setiap harinya.

Saya ingat, hari Kamis disalah satu bulan di tahun 2003, sepulang sekolah saya melihat ibu hanya terpaku di teras rumah, sikapnya pasrah hari itu.

Puluhan truk Reo melintas didepan jalanan rumah menuju Gampong Matang Lawang, sebelum Dzuhur tempat persembunyian Bapak dan beberapa pentolan GAM lainya berhasil di kepung pihak keamanan, berselang 30 menit kontak senjata, Enam jenazah GAM terbaring di halaman Meunasah Gampong, tidak ada ciri-ciri Bapak. Kami mendapat kabar tentang Bapak dan seorang Kombatan lainnya berhasil lolos dari kepungan maut hari itu, saya tidak tahu nasib Geuchik Gampong tersebut yang sempat di bawa oleh Aparat.

Hari-hari Darurat Militer mulai sedikit lebih kentara terasa di Gampong setelah kejadian itu, Bahkan satu pleton kompi Brimob yang bertugas di Polsek Baktya mulai sering menyambangi rumah kami. Saya tidak tahu sama sekali keberadaan bapak paska kejadian pengepungan yang menewaskan beberapa GAM di Gampong Matang Lawang.

Air mata, dan sedikit drama adalah cara kami mengelabui aparat yang sering mengepung rumah, mengatakan yang tidak-tidak untuk Bapak, seolah membencinya sedemikian rupa dihadapan mereka. Entah dari mana ide itu datang, namun begitulah kami melewati setiap interogasi perpanjangan tangan penguasa Darurat Militer di Aceh.

Enam bulan setelah ditetapkannya Operasi penumpasan GAM oleh presiden RI Megawati Soekarnoputri, kami mulai jarang mendengar berita tentang keberadaan Bapak, ada yang mengatakan beliau di kawasan Ceumpedak, Jambo Aye dan ada pula yang mengabarkan setelah kejadian di Matang Lawang– Bapak dan seorang kombatan lainnya berhasil lolos ke Trieng Pantang–sebuah lokasi yang menjadi persembunyian para tokoh GAM ke arah utara Lhoksukon, tidak ada berita yang pasti tentang keberadaan Bapak saat itu.

Hari Jum’at satu minggu tanggal kalender di bulan Januari 2004, itu kali pertama saya melihat Bapak lagi, Beliau pulang dengan berpura-pura menyerupai pakaian perempuan paruh baya di Gampong jelang Jum’at siang itu, meminggang kain sarung, sehelai kain batik panjang menutupi kepalanya–Cek Don– adik sepupu Bapak menurunkannya di depan pagar rumah saat kondisi sepi, saya juga tidak pergi ke mesjid hari itu, karena tau Bapak akan pulang namun untuk bersiap berangkat lagi.

Bapak dan Gubernur GAM wilayah Pase, Sayed Adnan saat itu sedang mencoba untuk hijrah keluar dari Aceh, kondisi di Aceh sudah tidak memungkinkan lagi untuk bersembunyi, kepungan dari segala lini terus membombardir pejuang Aceh Merdeka, jalan satu-satunya untuk menyambung nyawa adalah menyelamatkan diri ke luar negeri.

Sebuah Toyota Kijang berhenti di jalanan depan rumah, tiga pria berperawakan tambun turun dan masuk ke rumah–sempat makan siang bersama Bapak–Wak Ham, Imran dan Kamaruz, saya hanya familiar dengan Wak Ham (Beliau hilang dan tak berpusara hingga kini), karena memang beliau adalah karib bapak semenjak dulu kami masih berdomisili di Lhokseumawe.

Itu hari terakhir saya melihat Bapak, mereka buru-buru dengan target tiba di rumah singgah yang ada di Lhokseumawe sebelum shalat Jum’at usai, jalanan masih sepi dan juga agar tidak kepergok sweeping pihak militer di jalanan.

Satu jam berselang kami mendapatkan kabar melalui telepon di rumah saudara Bapak, bahwa beliau sudah bersama Sayed Adnan, mereka sudah aman di suatu tempat. Kami sekeluarga berharap hijrah keduanya ke luar negeri berhasil untuk saat itu.

Seminggu sudah waktu berlalu, kami belum mendapatkan kabar keberangkatan keduanya, Rabu di hari waktu di minggu yang sama Ibu sempat menjenguk Bapak, tidak ada kekhawatiran dari kami, tak ada soalan sepertinya dan keduanya sudah siap untuk berangkat keluar negeri dengan berbagai dokumen keberangkatan.

Jum’at 16 Januari 2004, kabar keduanya pun mulai simpang siur, Bapak dan Abu Sayed telah syahid dalam sebuah pertempuran di Buket Seuntang, Lhoksukon, Aceh Utara, begitu berita yang kami dengar di salah satu siaran radio FM Lhokseumawe.

“Gubernur GAM wilayah Pase, Sayed Adnan dan satu ajudannya disertir TNI-AD Kodim 0103 tewas dalam sebuah kontak tembak”

Sulit menerima kenyataan waktu itu, Ibu dan Adik begitu terpukul, semua keluarga mulai berdatangan, sejumlah warga juga sudah mulai memenuhi halaman rumah menanti kepulangan jenazah. Suara sirene Ambulance mulai terdengar di ujung simpang yang tak terlalu jauh dari rumah, saya tegar saat itu, meskipun  melihatk kantong plastik jenazah berwarna kuning mulai tampak diturunkan oleh petugas PMI Aceh Utara.

Saya membuka resleting kantong plastik mayat begitu diturunkan ke dalam rumah, Bapak sudah terbujur kaku, seolah tersenyum Bapak mengisyaratkan selamat tinggal untuk selamanya. Sebuah lubang peluru tampak, saya tak kuasa–tangisan itu mulai pecah–Ratib dan shalawat di bisikkan di telinga oleh sanak famili, mencoba tabah menerima kenyataan, Bapak Syahid di hari Jum’at di masa Darurat Militer, setelah di Fardhu Kifayah kan, disemayamkan hari itu juga Bakda Ashar di Gampong kelahirannya, Matang Kareung, kecamatan Baktya, Aceh Utara.

Enam belas tahun sudah berlalunya Darurat Militer semenjak 19 Mei 2003-19 Mei 2019 hari ini, tidak terhitung korban berjatuhan diberbagai pihak, baik dari kalangan GAM, TNI maupun masyarakat Sipil dalam operasi yang berlangsung beberapa bulan itu. Satu hal yang mesti di ingat, Kami sudah menguburnya, senyuman Aceh lebih penting bagi kita semua, hari ini, esok, lusa. Semoga memoriam kami itu hanya sebatas refleksi atas pencapaian Aceh hari ini, terus bangkit, ikhlaskan jiwa-jiwa Marwah bangsa atas segala pengorbanan untuk sebuah masa depan Aceh yang lebih baik.

*Penulis adalah putra Alm Razali AR (Ayah Kodim).

0Shares