Aceh FEATURE Knowledge Sharing Pase Sosial Budaya

Eumpang Gampet

0Shares

Empang Gampet berasal dari istilah bahasa Aceh yang bermakna karung yang diapit, biasanya kedua tangan mengapit posisi di pinggang ketika membawanya. Pendahulu bahkan memiliki sebuah takaran secara khusus untuk mengisi beras dalam karung tradisional ini– Biasanya di lafadz–Limoeng boh mok, Limoeng Boh Reugam, Limoeng Boh Jumpeit Breuh, Eumpang Gampet.

Entah ditelan zaman, atau mungkin dimakan usia, Eumpang Gampet sudah mulai jarang ditemukan dalam khazanah sosial budaya masyarakat di Aceh. Pada masanya, sekira 20 tahun yang lalu, Eumpang Gampet masih sempat saya lihat di berbagai acara tradisi di Aceh, semisal; Duek Pakat (musyawarah sebelum menggelar pesta perkawinan), berkunjung ke rumah duka sang mendiang yang sudah berpulang ke Rahmatullah, dan lain sebagainya. Kini sudah berbeda zaman, mungkin sebab itu pula sebuah anyaman berbentuk karung yang terbuat dari daun pandan untuk wadah diisi beras itu sudah tak terlihat lagi.

Eumpang Gampet merupakan karya tradisional pendahulu yang sepertinya mulai terlupakan, jarang terlihat digunakan seiring dengan semakin berkembangnya zaman. Saya berasumsi wadah yang lebih efisien mulai menggantikannya. Namun, di daerah pesisir dan pedalaman sepertinya kita masih bisa menemukan sebagian warga–terutama mereka generasi pada masanya– masih menggunakan sebagai eumpang (dibaca;karung) untuk mengisi beras saat berkunjung kerumah duka pada hari tertentu sebelum masa tujuh hari usai atau semisal acara lainnya.

Di kawasan perkotaan, Eumpang Gampet tidak ditemukan lagi, bahkan bila ditanya pada generasi milenial kini, mereka bahkan mendengarnya pun jarang karena sudah langka dalam peredaran. Membawa beras dalam wadah Eumpang Gampet ternyata masih sangat membudaya serta masih dilakukan oleh masyarakat pedalaman di wilayah timur dan utara Aceh. Terbukti, beberapa waktu lalu saya berkesempatan melihat langsung wujud aslinya.

Empang Gampet sendiri berasal dari istilah bahasa Aceh yang bermakna karung yang diapit, biasanya kedua tangan mengapit posisi di pinggang ketika membawanya. Pendahulu bahkan memiliki sebuah takaran secara khusus untuk mengisi beras dalam karung tradisional ini– Biasanya di lafadz–Limong boh mok, Limong Boh Reugam, Limoeng Boh Jeumpeit Breuh, Eumpang Gampet.

Di rumah duka salah seorang famili, saya melihat salah seorang kerabat yang berasal dari Alue Ie Puteh, Baktya, kabupaten Aceh Utara, Beliau membawa dua Eumpang Gampet yang didalamnya berisikan masing-masingnya; beras, sebutir telur, sebiji kunyit, dan sebiji pala didalamnya.

Eumpang Gampet berisikan beras, sebutir telur, sebuah kunyit dan biji pala.

Konon, beras, telur, kunyit dan pala yang ada di dalam Eumpang Gampet memiliki makna; sesederhana kemudahan yang ada, tali silaturrahmi untuk saling membantu dalam menyukseskan khanduri atawa malam takziah bagi rumah duka, setidaknya. Beras sebagai nasi, sebutir telur bermakna lauk, pala dan kunyit untuk rempah kuah agar bisa ikut dikendurikan.

Sudah menjadi tradisi di Aceh, menyumbangkan beras sebagai bentuk sedekah untuk dikendurikan pada malam harinya dengan mengundang beberapa Teungku dan Alim ulama kerumah duka bertakziah.

Zaman memang sudah berubah, kini plastik dominan menggantikan Eumpang Gampet, wadah yang ramah lingkungan itu tak lagi digunakan, bilapun ada masih sebatas dibawah standar pemakaian plastik. Seharusnya, Eumpang Gampet kini dapat kembali dikampanyekan, selain wujud dari wadah yang ramah lingkungan–bisa digunakan kembali–sudah saatnya kembalikan khazanah sosial budaya Aceh yang mulai ditinggalkan.[]

0Shares