Aceh BERITA Knowledge Sharing Teknologi

Produksi Pupuk Cair Untuk Minyak Gaharu, Berikut Kisah Inspiratif Mahasiswa Aceh Ikut Workshop ke Inggris

0Shares

Oleh Ayi Jufridar*

Minat yang tinggi terhadap dunia penelitian telah membawa Nurhanifa pada dunia yang menjadi impiannya sejak kecil. Mahasiswa Pascasarjana Teknik Energi Terbarukan Universitas Malikussaleh itu memiliki mimpi besar untuk memiliki perusahaan sendiri yang bergerak di bidang teknologi. Bukan saja mimpi bagi diri sendiri, melainkan bisa menularkan kesuksesan bagi orang lain sekaligus menjaga lingkungan.

Perjalanan Ifa—panggilan akrabnya—dalam dunia riset dimulai pada 2015 silam ketika ia kuliah di Jurusan Teknik Kimia Politeknik Negeri Lhokseumawe. Semasa kuliah di Politeknik, Ifa bergabung dengan Yayasan Fugha Aceh Riset yang dikelola dosen Politeknik Negeri Lhokseumawe. “Saat pertama kali saya bergabung, jumlah mahasiswa yang ada hanya dua orang saja. Tapi belakangan berkembang menjadi 10 orang,” kisahnya.

“Kami hanya membantu saja sekalian belajar tentang riset,” ungkap Ifa dalam sebuah percakapan sambil menyeruput sanger di sebuah kedai kopi di Kota Lhokseumawe, akhir November lalu.

Ditemani dua rekannya, Mawaddah dan Shafira Rizkina, Ifa mengisahkan awalnya di terjun ke dunia riset sampai menemukan bidang yang diminati dan digelutinya sampai sekarang, yakni pupuk cair untuk pohon gaharu (aquilaria).

Sebelum meneliti tentang pupuk cair untuk gaharu, Ifa meneliti dengan plastik ramah lingkungan yang dibuat dari pati ubi. Plastik ramah lingkungan berbahan dasar pati ubi menjadi titik tolak Ifa dalam dunia penelitian. Pada 2016, Ifa ikut Program Kegiatan Mahasiswa yang berada di bawah Kemenristek Dikti. Proposal yang diajukannya lolos di tingkat provinsi dan ikut mewakili Aceh ke nasional bersama sejumlah mahasiswa lain.

“Saya semakin bersemangat setelah mengikuti Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional di Makassar tahun 2017. Saya bertemu banyak mahasiswa dari berbagai universitas elit di Indonesia yang meriset tentang berbagai bidang. Mereka sangat serius dan mempunyai target tinggi dalam bidang penelitian. Saya banyak berdiskusi dengan mereka dan merasa terinspirasi,” kenang Ifa tentang kegiatan ilmiah tingkat nasional yang pertama kali diikutinya.

Pekan Ilmiah Mahasiswa tingkat nasional itu menjadi jembatan bagi Ifa untuk menapak lebih tinggi. Dia terus merawat mimpi untuk berhasil dalam penelitian dan tidak sebatas menang dalam berbagai perlombaan tingkat nasional. “Selama ini, banyak hasil penelitian berakhir di lemari, tidak ditindaklanjuti dalam bentuk bisnis,” tambah alumni Teknik Kimia Universitas Malikussaleh tersebut.

Setelah lulus di Politeknik, Ifa memang sempat ragu antara melanjutkan kuliah atau bekerja. Ia memilih keduanya, meski terminologi bekerja bagi Ifa berbeda dengan generasi muda kebanyakan. Dia akhirnya melanjutkan S1 di Fakultas Teknik Kimia sambil terus melanjutkan penelitian. Lulus dari Teknik Kimia pada 2019, Ifa langsung melanjutkan ke jenjang S2 dengan mengambil Teknik Energi Terbarukan. Ifa merupakan mahasiswa angkatan kedua di program pascasarjana yang hanya satu-satunya di luar Jawa tersebut.

Kesuksesan itu membuka jalan bagi Ifa untuk mendirikan PT Fugha Pratama Mandiri pada April 2018, berkat dana hibah Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) dari Kemenristek Dikti. Bersama teman-temannya, sejak 2016 Ifa sudah meriset tentang pupuk cair bagi pohon gaharu bisa merangsang produktivitas pohon tersebut. Saat itu, Ifa sudah manjadi bagian dari startup binaan Inkubator Bisnis CDC Universitas Malikussaleh.

PT Fugha Pratama Mandiri berhasil lolos pelatihan (workshop) ke Inggris bersama 10 startup lainnya melalui Program Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (PPBT) dan Calon Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi (CPPBT) pada 2018. Ifa akhirnya mengikuti workshop selama dua minggu, mulai tanggal 13-25 Januari 2019 di Inggris atas pembiayaan Pemerintah Inggris. Workshop tersebut merupakan kerja sama Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi dengan the Royal Academy of Engineering (RAEng) United Kingdom.

Pembina Inkubator Bisnis CDC Unimal, Dr Ibrahim Qamarius, menyebutkan kesuksesan Ifa merupakan kebanggaan Unimal dan generasi muda Aceh sebab untuk lolos ke Leadership Inovation Fellowship harus melalui persaingan kerat dalam beberapa tahapan. “Ada 400 peserta PPBT dan CPPBT tahun 2018 yang mendapat pembiayaan dari Direktorat Perusahaan Pemula Berbasis Teknologi, Direktorat Jenderal Penguatan Inovasi Kemenristek Dikti,” papar Qamarius dalam kesempatan terpisah.

Qamarius menambahkan, saat pameran Inovator Inovasi Indonesia Expo (I3E) 2018 dilaksanakan pada 24-28 Oktober 2018 di Yogyakarta, ada 30 startup mendapat kesempatan untuk presentasi (pitching session) di Kedutaan Besar Inggris, termasuk milik Ifa. Kemudian terpilih 10 startup yang berkesempatan untuk workshop di Inggris.

Ifa mengungkapkan, pengalaman mengikuti pelatihan di Inggris kian menambah wawasan dan semangatnya dalam membangun perusahaan sendiri berbasis kelestarian lingkungan. Dia melihat, kesempatan berkembang saat ini terbuka luas, sejauh memiliki kemauan untuk menggarapnya. Kesempatan belajar membangun perusahaan rintisan sampai ke Inggris juga membuka jaringan baru bagi Ifa. “Dalam dunia bisnis, jaringan termasuk aspek penting untuk sukses,” ujar Ifa sambil tersenyum.

Gadis berwajah keibuan itu mengungkapkan pengalamannya belajar membangun perusahaan rintisan, akses ke lembaga keuangan, membangun manajemen perusahaan, membangun brand image, pemasaran, dan sebagainya. “Tidak selamanya perusahaan itu dibangun dengan modal besar, yang penting konsepnya dulu sudah benar. Modal bisa datang belakangan, meski untuk daerah kita gagasan seperti itu agak sulit diwujudkan,” papar Ifa yang dulu pernah menggeluti dunia master ceremony (MC).

Namun, Ifa sudah memilih komunitas yang benar dengan bergabung dalam Inkubator Bisnis CDC Unimal. Kultur bisnis sudah terbangun di sana dan semangat berubah selalu terjaga dalam kebersamaan. Dalam kondisi seperti itu, Ifa dan teman-temannya terus membangun PT Fugha Pratama Mandiri.

Dengan gaya khas pekerja bisnis promosi, Ifa mengatakan pupuk cair yang diproduksi hanya dijual Rp300 ribu per liter. Dibandingkan dengan produk sejenis yang mencapai Rp1 juta sampai Rp2 juta per liter, tentu saja produk milik Ifa jauh lebih murah. “Boleh dicek di pasaran online, punya kami lebih murah,” lanjut Ifa yang dibenarkan dua sahabatnya.

Karena sudah memasarkan melalui sejumlah pasar belanja daring, pembeli pupuk cair produksi Ifa datang dari berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, bahkan dari Gorontalo dan Kalimantan yang dikenal memiliki banyak pohon gaharu. Pun demikian, Ifa dan kawan-kawannya berharap pupuk cair untuk pohon gaharu itu bisa diproduksi secara massal dan bisa diperoleh di berbagai daerah.

Dengan pupuk cair tersebut, gubal gaharu akan lebih cepat diproduksi lebih cepat sehingga lebih bernilai ekonomis tanpa mengurangi kualitas. Kalau ini bisa digunakan secara meluas, tingkat kesejahteraan petani gaharu bisa bertambah. Minyak gaharu memiliki banyak manfaat untuk bidang kesehatan, kecantikan, bahkan sering dikaitkan dengan mistis seperti menghindari gangguan makhluk halus. Demikan banyak manfaat minyak gaharu sehingga harganya pun tinggi. Di sebuah pasar online terkemuka di Indonesia, harga minyak gaharu disebutkan Rp700 ribu per 12 mililiter.

Rektor Universitas Malikussaleh, Dr Herman Fithra, mengatakan kampus menyiapkan mahasiswa bisa menjadi entrepreneur muda sejak di bangku kuliah. Di universitas malikussaleh membuka peluang bagi mahasiswa untuk membuat perusahaan rintisan atau membangun karier sejak mahasiswa. “Tanpa menganggu jadwal kuliah, mahasiwa bisa merintis usaha sejak dini di bawah bimbingan dosen. Peluang ini harus ditangkap agar mahasiswa bisa membuka lapangan kerja, alih-alih sibuk mencari pekerjaan seusai kuliah,” tandas Herman.

*) Jurnalis dan Novelis Aceh, yang juga Dosen fakultas FEB Unimal.

0Shares