Aceh BERITA Trivia

Salak Sidimpuan, Pundi Rupiah Anak-anak Sumut di Aceh

0Shares

Buah Salak memang jenis buah yang harganya lebih merakyat, perkilogram nya masih relatif murah, Rp8000 s/d Rp10000. Karena itu pula Salak menjadi salah satu jajanan buah favorit warga.

Lhokseumawe, ANews– Cuaca tampak mendung, rintik hujan mulai membasahi jalanan kota. Becak motor (Betor) khusus barang telah disiapkan, beberapa karung Salak Sidimpuan, asal Sumatera Utara diangkut menuju sentra pasar yang berada di Kota Lhokseumawe.

Firman (29) pemuda asal Sidikalang, Sumatera Utara, telah menekuni bisnis menjual buah Salak asal provinsinya itu lima tahun yang lalu.

Pedagang yang saban hari mangkal di pajak Inpres Lhokseumawe itu sedang melayani pembeli yang rata-rata ibu paruh baya.

Buah salak memang jenis buah yang harganya lebih merakyat, perkilogram nya masih relatif murah, Rp8000 s/d Rp10000. Karena itu pula salak menjadi jajanan buah favorit warga.

Kepada ANews Ia mengatakan, Salak Sidimpuan memang sudah dikenal sejak dulu, ia bahkan berani mengklaim satu-satunya produsen Salak di Sumatera itu berasal dari Padang Sidimpuan, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara.

“Kalau buah salak di Sumatera itu saya jamin hanya Sidimpuan punya. Itu dipasok ke seluruh wilayah Sumatera, termasuk ke Aceh

Sudah dari dulu itu, main-main lah ke kawasan kota Salak, indah pemandangan” kata Dia sembari terus menyortir buah salak dagangannya.

Firman sudah lima tahun merantau ke Aceh, tak ada pekerjaan lain yang dikerjakan olehnya selain berjualan buah salak. Saban hari Ia membuka lapak dagangan di dua lokasi yang berbeda. Setelah pagi di pajak Inpres, siangnya Ia berjualan Salak di jalan Merdeka Timur, tepatnya di seputaran Mongeudong.

“Orang Aceh itu suka kali Dia sama Salak, pakai apa itu namanya mereka makan, Plik u (dibaca;fatarana).

Aku jualan dua tempat sehari, pagi disini, kalau siang di Mongeudong, jalan keluar kota, pokoknya cukuplah buat hidup di kampung orang” terangnya.

Dalam sehari Dia mampu menjual 10 karung yang berisi 30 s/d 35 kilogram buah Salak yang diambilnya dari pemasok di kawasan Panggoi, Lhokseumawe.

“Karena dua tempat aku jualan, hari-hari biasanya habis 10 karung, di pajak Inpres 7 karung, di Mongeudong 3 biasanya.

Kalau sepi juga, 7 karung habis sehari.” Sambung pria yang sehari- hari memiliki omset 300 ribu rupiah dari penjualan buah Salak Sidimpuan.

Firman salah satu dari sekian pedagang salak yang rata-rata berasal dari Sumatera Utara, saban hari mereka membawa salak Sidimpuan untuk diperdagangkan di berbagai pasar, tak terkecuali hingga pasar-pasar tradisional di pedalaman sekalipun. Invansi anak-anak muda itu telah membuka lapangan kerja bagi mereka, salak Sidimpuan pundi rupiah bagi pemuda Sumatera Utara di perantauan.[]

0Shares