Adventure Fiksi

Sang Disertir; Kisah yang Hilang di Pusaran Konflik Aceh (1)

0Shares

Oleh Dili Munanzar*

Hari Terakhir di Kota Petro

Takdir hidup membawaku mejadi “anak kolong” yang tinggal disalah satu asrama serdadu di Kota Petro. Hari itu usiaku genap 15 tahun, saat hari terakhir bagiku menghirup debu jalanan ibu kota berpergian ke sekolah di salah satu Madrasah Tsnawiyah di kota tua itu.

Kehidupanku dan keluarga laiknya kondisi para keluarga di kalangan militer pada umumnya–mereka berpangkat Sersan, Ibuku yang paruh baya itu sudah mengabdikan diri selama 18 tahun sebagai anggota Ibu Persit Kartika Candra Kirana, sembari kesehariannya sebagai Ibu Rumah Tangga.

Memiliki beberapa inisiatif pekerjaan sampingan– membantu perekonomian keluarga, Ibu menerima masakan rantangan di kalangan asrama, selain juga membuka kios kecil untuk bejualan Mie Aceh di sore hari dalam areal Asrama serdadu itu.

Cuaca gerimis mulai membasahi debu jalanan ketika hendak keberangkatanku ke sekolah, Aku dan Adik yang masih duduk di bangku kelas Sembilan dan Tujuh berangkat ke sekolah menggunakan becak Pak Kumis seperti biasanya–langganan bulanan. Begitu pula setiap harinya ibu selalu mengantar kami ke gerbang asrama setiap pagi hanya untuk memastikan pemilik becak itu Pak Kumis–bukan temanya yang lain bila Ia berhalangan menjemput.

Di tahun 2000 Aceh sedang berkecamuk konflik antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Republik paska jatuhnya Orde Baru dan hegemoni menyambut era Reformasi di tahun 1998. Penculikan anak para serdadu Republik menjadi sebuah trauma bagi orang tua mereka yang bekerja sebagai TNI maupun Polri kala itu.

Ada beberapa kali terjadi, tak sedikit pula Anak para keluarga besar Angkatan Bersenjata Republik Indonesia yang diculik saat bepergian ke sekolah. Semenjak kabar angin itu santer terdengar di kalangan asrama, Ibu sangat was-was saat kami berangkat ke sekolah.

Bahkan saat jam pulang sekolah harus sedikit memutar jalan agar menghilangkan jejak–mengitari seputaran Rumah Sakit Umum tepat di belakang Asrama. Hal ini sering kami lakukan bila Pak Kumis tidak mejemput, agar tidak terlihat sebenarnya kami adalah “Aneuk Pa’i” yang disematkan oleh sebagian teman di sekolah–ketika menjahiliku.

Lonceng masuk pelajaran jam pertama telah berbunyi, seperti biasanya para siswa mengikuti jam pelajaran sekolah, aku dan teman-teman didalam ruangan yang sesak akan jumlah 48 siswa. Sekolahku belajar merupakan salah satu favorit di kota tua itu, Kelebihan jumlah siswa di suatu ruangan sudah menjadi lazin dan tidak mengherankan lagi.

Pelajaran Matematika sedang berlangsung di jam ke tiga dan empat, pembahasan pohon faktor masih juga membingungkanku– aku tidak suka Matematika dan bila pembahasan rumus– kepalaku buntu sesaat, ingin mengantuk dan tidur saja.

Tiba-tiba salah seorang guru piket sekolah memanggilku di pintu masuk kelas ruangan III/4, mataku pun melalak kembali ketika teman menegurku dipanggil ke ruangan kepala sekolah.

“Mahyu, Ada telepon di kantor dari bapakmu di kantor kepala!”,

Kata guru piket di depan pintu ruangan kelas, sambil membalik arah dan terus berlalu, aku bergegas menuju kantor mengikutinya untuk menerima panggilan tersebut.

“Halo Abang !, Ini Bapak”

Awal pembicaraan kami di telepon terdengar samar, seperti dari lokasi yang kejauhan, ya mungkin Bapak sedang Operasi Militer pikirku sambil memberinya salam.

“Jangan pulang ke asrama, Nenek sakit. Di asrama sedang terjadi perang!, bawa adik ke dekat Mesjid di persimpangan sekolah. Nanti, disana ada kawan Bapak yang sudah menunggu dan menjemput kalian berdua, pokoknya jangan pulang ke Asrama ya!, Ada Abang dengar !?”

Timpal Bapak berkali-kali untuk meyakinkan aku yang sedang kebingungan menjawab apa perihal sebenarnya. Tidak diberikan kesempatan untuk bertanya lebih lanjut akan perintah komando, suara bapak tegas, setiap kali ia berkata hanya cukup sekali, beliau tidak suka mengulangnya untuk kali selanjutnya, disiplin itu diajarkan kepadaku semenjak aku kecil dulu.

“ Iya pak !”

Hubungan aku dan Bapak sedikit renggang, banyak ulahku di salah satu pondok pesantren sebelum akhirnya aku pindah ke sekolah ini. Meskipun begitu, aku hanya pernah sekali diback-hand oleh bapak seumur hidupku, itu juga ketika aku mengusili adikku di rumah.

Kelakuanku yang sering bermasalah tidak pernah membuatnya melibasku dengan kopel militer, seperti apa yang pernah kulihat; Rudy, temanku merasakan libasan kopel itu oleh ayahnya hanya karena mandi laut seharian.

“Nanti bapak yang minta izin sama Kepala sekolah. Berikan teleponnya kepada Kepala sekolah !“,

“Iya pak”

Percakapan kami hari itu begitu singkat, meskipun aku masih dalam kebingungan sambil berjalan menuju ruangan kelas serta berpamitan pada Guru pelajaran bahwa nenekku sakit keras.

Ruang kelas adik tepat di depan seberang lapangan sekolah, tanpa sempat berpamitan pada Safrina, cinta monyetku 15 tahun pertama, akupun berlalu untuk menuju kelas adikku.

“Assalamu’alaikum, permisi buk !,”

Aku berjalan menuju meja guru kelas Adik dan mengabarkan musibah yang sedang kami, guru adikku menyuruh Danil segera bergegas setelah percakapan kami usai.

Danil bergegas mengambil tas ransel miliknya. Dia terlihat begitu sumringah– pulang sekolah adikku ini tidak bisa lepas dengan stick SEGA miliknya. Hari itu aku yakin dibayangkan olehnya sambil tersenyum dia akan libur panjang kali ini.

Setelah berpamitan kepada Guru, Kami menuju kantor. Bapak Kepala sekolah sudah menunggu di sana.

“Ini uang saku buat kalian !”,

Beliau memberikan satu lembar uang Seratus ribu rupiah kepadaku, sembari sedikit menasehatiku untuk berhati-hati di jalan.

“Bapakmu sudah berbicara tadi ditelepon dengan saya, Kebetulan saya kenal dekat dengan orang tua kalian!, Jalankan seperti perintah komando”

Timpal Pak Ramli dengan kumis rapi seperti kumis mantan Danjen Kopassus Soenarko yang pernah kulihat itu kepadaku.

“Terima kasih pak !”,

Setelah pamit, Aku dan Danil bergegas ke lokasi yang sudah dikatakan Bapak tadi di telepon. Dalam perjalanan adikku menggerutu;

“Bang, kenapa kita tidak naik becak saja?, Saya gak sanggup jalan nih!”

Adik sedikit lebih bongsor dari aku itu memang sangat tidak suka berjalan kaki, berat badannya hampir 60 kilogram di usianya yang masih terbilang 12 tahun. Jalan kaki bukan pilihan yang tepat baginya untuk pulang ke Asrama yang jaraknya kurang lebih sekira 1 Kilometer dari sekolahku.

“Kita tidak pulang kerumah, kita ke Mesjid Raya. Nanti, kawan bapak tungguin kita disana!”

Diapun tak lagi berkicau, terus berjalan mengikuti langkahku menuju persimpangan Mesjid bersamaku.

“Anak pak Razali ?!”

Tanya salah satu dari dua pria berpakaian rapi didalam minibus berwarna biru metalik. Aku dan Danil terkejut, sepertinya kedua orang itu memang sudah memperhatikan kami jauh sebelum tiba di persimpangan itu,

“Iya om!”,

Jawabku tanpa ada kecurigaan pada dua pria yang belum kukenal sama sekali itu,

“Naik terus!, biar kita berangkat. Bapak sudah meunggu kalian ditempat Nenek!”

Perintahanya untuk meyakinkanku dan Danil agar ikut bersama mereka. Tanpa ragu aku ikut ke dalam minibus tersebut.

Perjalanan menuju kampung nenek mulai ada yang tidak beres. Kami baru keluar dari bundaran Satlantas kota, Adik berbisik padaku,

“Bang, kita mau diculik!”

Timpalnya kepadaku, arah kendaraan menuju ke arah timur mengakibatkan dia berkata demikian, kampung Nenek seharusnya menuju ke arah barat Kota. Gusar di pikiranku seketika datang. Aku dan adik, dua anak serdadu Republik berada dalam minibus orang tidak kukenal sama sekali di masa konflik itu.[]

Bersambung..

*) Ditulis berdasarkan kisah nyata lifestory saksi hidup, dan merupakan keluarga Disertir yang ikut terlibat pergolakan konflik di Aceh

0Shares