AKALSEHAT FEATURE Fiksi

Apa Suman; Kejahatan di Balik Peci

0Shares

Cerpen

Oleh Adam Zainal*

“Ada sekelumat asa, harapan, juga kecewa pada jiwa-jiwa yang tulus. Mereka tidak faham apa yang disebut dengan politik, yang mereka tahu jubah dan Peci adalah kebaikan (tanda kesucian), juga alas untuk menjanjikan kemakmuran, kesejahteraan, terlepas siapa insan yang mengenakan jubah dan peci suci tersebut,” kata Apa Suman.

Aku mengamati dengan seksama setiap pemaparan SKS demi SKS yang disampaikan Apa Suman. Dia begitu santai, dan penyampaiannya sangat terarah. Aku hanya bisa mengiyakan apa yang dia utarakan kepadaku.

Di sisiku, Abu Li Pirak dan Bang Seuhak juga ikut menyeruput kopi di petang itu. Kopi, iya kopi. Minumun yang sudah menjiwai setiap individu yang lahir di bumi Serambi Mekkah tersebut. Di meja bundar itu, para “Peutuha” gampongku berkomferensi, bersosialisasi, ber-imajinasi, berhalusani, mencurahkan segenap emosi, ekspresi, juga diskusi.

Sedang aku hanya mengamati dan menulis kata demi kata yang mereka utarakan, disamping aku juga menyadari bahwa diriku adalah anak kamarin hari.

“Suman. Kenapa kau terus-menerus membenci mereka yang memakai Peci?

Bukankah memakai peci itu sebuah kehormatan, dalam kehidupan masyarakat kita (Aceh)?”

tetiba Abu Li berujar seraya memanggil bang Matnu.

Bang Matnu adalah seorang barista ulung di gampongku, warung kopinya sudah berumur puluhan tahun, dia adalah pemilik racikan kopi seadanya. Bawaannya, humoris dan bijaksana, semasa mudanya, Bang Matnu sudah merantau ke banyak daerah, dan negara-negara maju, seperti Jepang, Brunai, Thailand, juga Malaysia.

Dia juga lama berkelana di ibukota Jakarta. Baginya, tanoh ie (tanah air) adalah nyawa, dia kembali ke kampung atas alasan jiwa, ikatan hati dan raga.

“Begini, Abu. Saya tak seluruhnya membenci para dedenyut ber-Peci.

Hanya saja, aku membenci kelompok manusia yang bersembunyi di balik Peci atas beragam kehajatan yang dilakukannya,”

ujar Apa Suman sembari menyulut sebatang “rukok ôn” (rokok daun-red).

Bang Mantu berjalan menghampiri meja kami, Aku dan Apa Suman memesan kopi sareng, sedang Abu Li dan bang Seuhak juga memesan kopi. Mereka memesan kopi pancong racikan seadanya.

Kini, para peutuha itu melanjutkan kembali perbincangannya, sedang aku masih khusyuk dengan gawaiku. Barangkali, di sana aku memang ditakdir untuk menjadi pendengar yang budiman.

“Namun, Suman. Bukahkah yang berbuat jahat itu tidak seluruhnya bersembunyi di balik Jubah dan Peci?

Menurutku, hanya sebahagian saja yang menutupi diri dengan dalil agama atas kebejatannya,”

timpal Abu Li seraya menyulut sebatang kretek.

“Tentu, Abu. Tapi, penjahat diluar negeri memang tak ber-Peci. Sebab agama mereka beda dengan kita, dan mereka tak pernah bersembunyi di balik pakaian suci atas kejahatan yang mereka lakukan.

Beda sekali dengan di Nanggroe kita, para penjahat selalu berlindung di belakang Agama. “Kayoe teuh keu ureung meu-Peci daripada keu Beulaga,”

urai Apa Suman menggelitik. Bawaan tetap santai, dia sangat mahir dalam menyampaikan sesuatu.

“Tidak, Suman. Kau jangan menyemakan saudara kita seu-Nanggroe dengan penjahat di Eropa sana. Sejahat apupan orang kita, mereka masih tetap mengingat tuhan, dan tak pernah keluar dari islam,”

timpal Abu Li.

“Hoe, Abu. Kita tidak sedang membahas tentang perbedaan agama. Atas nama kemanusian, saya tetap membenci setiap pelakunya.

Sebab kejahatan bukan didongkrak atau didorong dari sebab musabab agama yang diyakini,”

sergah Apa Suman.

“Jangan mengelak, Suman. Apapun yang kita lakukan tidak terlepas dari norma dan nilai-nilai agama, baik itu berupa kejahatan ataupun kebaikan.

Aku tak setuju jika kau mangklaim orang yang berpeci itu sebagai orang berlaku jahat,”

pungkas Abu Li. Suasana sedikit menegang, raut muka Abu Li kian menyala, sorot matanya menantang Apa Suman.

Apa Suman masih terlihat santai dan sesekali menyenggik senyum ke atasku dan bang Seuhak.

Aku membalas sinis senyum Apa Suman dan berkedip mata kearahnya, pertanda memberi kode untuk melanjutkan percakapannya dengan Abu Li.

Abu Li menatapku girang, sepertinya dia tahu bahwa kali ini aku sedikit berpihak kepada Apa Suman, namun bukan masalah, sebab dia mengerti betul bagaimana perangaku.

“Abu. Jangan emosi, Abu. Sudah dari tadi saya katakan, bahwa saya tak seluruhnya membenci orang yang ber-Peci dan berjubah suci.

Saya hanya membenci mereka yang berbuat kejahatan serta bersembunyi di balik pakaian suci. Supaya apa? Supaya mereka di anggap sebagai pejuang, juga sebagai mujahid?”

papar apa Suman seraya melayangkan kembali pertanyaan kepada Abu Li.

“Iya, Suman. Aku mengerti, tapi bisa menerima perkataanmu itu, sebab aku sudah menggunakan Peci selama 45 tahun. Aku juga bahagian dari orang yang berpeci, Suman,”

jawab Abu Li sedikit terbata-bata.

“Baiklah, Abu. Saya tak akan melanjutkan lagi percakapan tentang Peci dan Jubah suci pujaan, Abu,”
sahut Apa Suman.

Suasana mulai hening, keduanya tak lagi melanjutkan percakapan, bang Seuhak menatap ke atasku dengan menyeduhkan sedikit senyum. Aku mengangguk, berharap bang Seuhak bisa membuka diskusi baru di petang itu.

“Abu, ada benarnya yang dikatakan oleh Apa Suman.

Kenapa Abu harus marah dan emosi, bukankah negeri kita ini Peci dan Jubah bahagian dari simbol, seperti simbol pancacita?”

tetiba bang Seuhak berkata seraya mengisi kembali tabir hening meja bundar tersebut.

Aku terkekeh mendengar perkataan bang Seuhak, tak biasanya dia menyahuti dan sepaham dengan Apa Suman. Kebiasaan mereka sering bertekak alot dengan isme mereka masing-masing.

“Cukup, Seuhak. Kau jangan terpengaruh dengan aliran si Suman, nanti kau bisa sesat. Doktrinnya terlalu ke kiri,”

urai Abu Li kemudian.

“Kan bagus kiri,” sanggahku.

“Kalian berdua memang satu aliran, sama-sama sesat,”

sambung Abu Li menyalak.

“Kiri jalan terus, Abu. Kita tak perlu buang-buang waktu di lampu merah,” timpalku singkat.

Apa Suman dan bang Seuhak tertawa terpingkal-pingkal mendengar perkataanku, sedang Abu Li memasang wajah suram, sorot masih murung dan mengenaskan.

“Hak ek ta mariet ngon aneuk miet budok lage kah,”

lanjut Abu Li dengan bahasa Acehnya yang khas, seraya meneguk kopi.

“Sudah, Nyak Dam. Cukup, biarkan Abu Li menikmati masa tuanya untuk sebentar lagi. Dia juga butuh kebahagian seperti kita,”

ujar Apa Suman kemudian.

“Kau pikir aku tak pernah bahagia, Suman? Aku ini orang yang paling bahagia di kampung ini, disamping dermawan dan murah hati. Tak sama dengan kau, OKB (orang kaya baru), tapi pelit dan kikir,”

kata Abu Li.

Matahari mulai meranjak ke arah barat, kini suasana warung kopi bang Matnu kembali menyalak, Apa Suman dan Abu Li Pirak mulai membuka tajuk diskusi baru, aku dan bang Seuhak hanya menjadi pendengar yang Budiman.

“Siapa yang pelit dan kikir, Abu? Bukankah Abu yang sudah di cap sebagai orang pelit dan tamak di kampung ini. Rugi, Abu.

Boinahmu hampir setengah kampung ini, tapi kau tak kunjung juga ke tanah suci. Abu tunggu apalagi, harta tidak dibawa mati. Liang lahat hanya butuh sehelai kain kafan, bumi tak butuh kekayaan kita,”

sindir Apa Suman.

“Barangkali tuhan belum menghendaki aku untuk ke tanah suci, Suman,” balas Abu Li singkat dengan nada merendah.

“Tuhan, akan menghendaki apa yang kita minta, Abu. Mungkin Abu tak punya niat atau tak pernah berdo’a untuk bisa naik haji,” timpal Apa Suman lagi.

“Tentu. Kapan Abu Li hendak berdo’a, dia sering lupa jalan menuju ke Meulasah, padahal usianya sudah teramat lanjut,” pungkas bang Seuhak.

“Seuhak. Ibadat itu antara manusia dan tuhan. Kau tak perlu meng-investigasi ibadah orang lain. Ibadah bukan perkara yang wajib dipamerkan,” jawab Abu Li, seraya mencoba untuk membela diri.

“Lantas untuk apa ada Meulasah, Abu?” tanyaku kemudian.

“Ya, untuk ibadah,” jawabnya singkat.

“Apakah ibadah di Meulasah masuk dalam katagori pamer?” tanyaku lagi.

“Tentu tidak, nyak Dam,” helanya.

“Lantas! Kenapa Abu tak pernah ke Meulasah?” potong Apa Suman dengan pertanyaan sporadisnya.

“Cukup, Suman. Kau tak perlu cari gara-gara denganku,” imbuh Apa Suman.

“Tidak, Abu. Saya tak cari gara-gara dengan Abu,” jawab Apa Suman santai.

Senja kala langit Aceh merekah jingga, matahari mulai tenggelam dalam peraduan petang. Kami mulai beranjak untuk kembali, dan diskusi petang itu barangkali dinyatakan sudah usai. Namun, raut-raut keriput itu tak sedikitpun menyulutkan dendam dan permusuhan, mereka kembali tertawa sambil berjalan menuju arah pulang.*

*) Kinet BE, Penafsir bahasa para arwah gunong Goh. Masyarakat arus bawah.

0Shares