AKALSEHAT Knowledge Sharing Sosial Budaya

Pro Kontra Budaya Panjat Pinang, Hingga Jadi Tontonan Penjajah Permainkan Pribumi

0Shares

ANews– Sudah menjadi ceremonial tahunan, beragam acara akan digelar untuk merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Mulai dari tingkat RT hingga Nasional memiliki cara masing-masing untuk memperingati hari besar negara ini. Aneka macam lomba pun digelar dari desa-desa sampai kota besar. Salah satunya yaitu lomba panjat pinang.

Lomba panjat pinang merupakan salah satu perlombaan paling ikonik yang dilaksanakan pada hari perayaan kemerdekaan Indonesia. Bagaimana tidak, sekelompok pria harus memanjat batang pohon pinang yang telah diolesi minyak atau oli. Alhasil peserta harus memiliki strategi dan kerja sama yang baik agar bisa menggapai hadiah yang digantung di pucuk tiang.

Lalu, bagaimana awal mula sejarah panjat pinang muncul di Indonesia? Panjat pinang merupakan salah satu tradisi yang cukup tua dan populer di Indonesia.

Perlombaan ini berasal pada masa penjajahan Belanda yang digelar sebagai acara hiburan bagi para kaum kolonial. Panjat pinang diadakan pada momentum penting seperti hajatan, hari libur nasional atau hari ulang tahun tokoh-tokoh penting Belanda pada masa itu.

Penjajah Belanda memasang batang pohon pinang yang telah dilumuri pelicin secara vertikal dan memasang bermacam-macam hadiah di pucuk tiang tersebut.

Lalu masyarakat Indonesia pada masa itu akan berlomba-lomba untuk memanjat dan meraih hadiah yang disediakan, sementara penjajah Belanda hanya menonton ‘pertunjukan’ yang keras itu.

Diketahui pada masa itu hadiah yang dipasang biasanya berupa barang pokok seperti makanan, gula, tepung dan pakaian.

Hadiah seperti itu memang sangat mudah dijumpai pada masa kini. Namun pada masa penjajahan, masyarakat Indonesia hidup melarat dan tersiksa. Barang-barang murah itu pun menjadi suatu kemewahan bagi mereka.

Pro dan Kontra Panjat Pinang

Beberapa orang berpendapat panjat pinang seharusnya tidak dijadikan tradisi apalagi di acara kemerdekaan. Karena acara tersebut diperkenalkan oleh penjajah dan menjadi bahan tontonan bagi mereka.

Perlombaan ini hanya membawa memori pahit dari masa lalu. seperti dilansir ANews dari kompas.com, Pemusik Harry Roesli juga pernah menyuarakan kontra terhadap perlombaan panjat pinang.

Menurut dia, ada kenyataan “kelas sosial” di lingkungan masyarakat pada perayaan kemerdekaan. Orang kaya cenderung hanya menyumbang saja dan tidak ikut kegiatannya.

“Kalaupun ikut kegiatannya paling-paling hanya ikut pertandingan catur saja. Sementara dalam proses bergaul itu sebenarnya ada isi hati lain.

Si orang kaya menyumbang supaya ia bisa hidup aman di lingkungan itu. Supaya tidak ada yang menjarah hartanya,” tutur Harry seperti dikutip pada harian Kompas, 18 Agustus 2002.

Selain itu, penebangan besar-besaran hanya untuk acara hiburan sekali setahun itu tidak seimbang dengan nilai lingkungan.

Karena pertumbuhan pohon pinang cenderung lambat. Sebatang pinang baru layak ditebang untuk keperluan perlombaan setelah ia berusia 30 tahun.

Hanya dari batang pinang setua itu bisa dibuat tiang lomba berukuran ideal, yakni tinggi antara 8-12 meter dan diameter 43 – 60 centimeter.

Masalah lain yang ditimbulkan yaitu belum tentu seluruh batang pinang yang ditebang laku terjual dan digunakan. Pertumbuhan pohon pinang cenderung kalah cepat dengan permintaan konsumen.

Dengan perayaan yang diadakan dari Sabang sampai Marauke, bayangkan saja berapa banyak batang pinang yang ditebang dan membusuk secara sia-sia karena tidak laku terjual.

Melalui penelusuran Kompas.com pada arsip harian Kompas, pada tahun 1970-an batang pinang di DKI Jakarta masih banyak dipasok dari daerah sekitar Ibu Kota, seperti Bogor, Citayam dan Pondokgede.

Namun sejak awal 1980-an batang pinang harus didatangkan dari daerah-daerah yang jauh seperti dari Sukabumi, Purwakarta, Serang dan Lampung.

Bahkan kini pemasok batang pinang dapat dibilang cukup sulit dan harganya pun menjadi mahal. Kelangkaan ini diperparah dengan kurangnya usaha peremajaan dan pembudidayaan pohon pinang.[] Sumber: Kompas.com

0Shares