FEATURE Fiksi Knowledge Sharing

Köhlerboom [Part2]

0Shares

Oleh Ayi Jufridar*

Tiga bulan delapan belas hari sebelum menerima surat Kerajaan Nomor 19 tanggal 17 Januari, Johan Harmen Rudolf Köhler berbicara dengan istrinya ketika mereka melakukan ritual pagi menjelang berangkat ke kantor. Istrinya selalu mengantar sampai di depan rumah dengan menyandang tas kulit berwarna coklat tua di bahu seolah dialah yang akan berangkat kerja. Percakapan menjelang berangkat sering terjadi, dengan topik serius maupun yang ringan. Namun pagi itu, istrinya mengingatkan agar dirinya mewaspadai pohon ketika berada di daerah perang.

Köhler tidak tahu itu percakapan ringan atau serius, tetapi ia tercenung sekejap sebelum menyahut; “Pepohonan tidak akan membunuhku,” ia menutup kalimat itu dengan tawa kecil.

Pada hari ia memeriksa pasukan di halaman Masjid Baiturrahman, entah kenapa percakapan itu terngiang kembali dalam benaknya. Pikiran militernya mengaitkan pesan itu dengan keberadaan musuh di balik pohon atau ancaman lain yang berkaitan dengan pohon. Banyak pohon di sekitar Masjid Baiturrahman yang membuat udara sekitar terasa lebih sejuk bahkan di masa perang, tetapi jumlah anak buahnya yang berjaga di sekitar pepohonan jauh lebih banyak daripada jumlah pohon itu sendiri. Tidak ada alasan untuk mencemaskan pepohonan bahkan meski mereka bisa menembak.

Entah karena paranoid atau sebagai bentuk kewaspadaan semata, dengan teropong di tangan Köhler sudah memeriksa sendiri kesiapan pasukan di sekitarnya, beberapa kali bahkan. Kesimpulannya tidak berubah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.

Maka dia serasa tidak percaya ketika baru saja membalas hormat anak buahnya, tiba-tiba ada rasa sakit di tangannya lalu naik ke jantung. Dia sempat bingung dengan apa yang terjadi sampai melihat noda darah membasahi seragam militernya di bagian dada.

“Oh God, ik ben getroffen…!” pekiknya di tengah kepanikan yang tiba-tiba terdengar di sekitar. Ada teriakan memberi perintah, ada kegaduhan dari pasukan pengamanan. Köhler tidak bisa memastikan siapa mengatakan apa, ia hanya bisa merasakan beberapa tangan menyambut tubuhnya sebelum rubuh ke tanah. Percakapan dengan istrinya pagi itu membayang samar di tengah kesadaran yang kemudian gagal ia pertahankan.

BEBERAPA tahun setelah penembakan itu, dalam sebuah upacara militer kecil, tentara Belanda menanam pohon geulumpang di titik rubuhnya Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler. Tidak ada pertimbangan khusus mengapa pohon itu yang dipilih. Anak buah Köhler pun tidak pernah mendengar kisah percakapan sang Jenderal dengan istrinya tentang sebatang pohon yang membuat mereka harus mencari jenis pohon tertentu untuk mengenang kematian Köhler.

Geulumpang dipilih karena pohon itulah yang mudah ditemukan dan menurut mereka, pohon itu sangat kokoh dan tinggi dengan cabang-cabang tumbuh mendatar bertingkat-tingkat, cocok untuk menggambarkan karakteristik Jenderal Köhler dalam membangun karier militernya yang sempat menjadi kopral dalam masa pemberontakan Belgia.

Daun-daunnya yang hijau lebat memberi keteduhan bagi siapa pun, itu pun dinilai sesuai untuk melukiskan karakteristik Köhler. Sang Jenderal kini sudah pergi, tetapi pohon geulumpang akan tetap tumbuh dan akan tetap dirasakan keberadaannya bagi generasi berikut, bahkan dari pihak musuh sekali pun. Beda kalau mereka memilih tulip, yang meskipun lebih indah tetapi tidak sesuai dengan simbol kemiliteran, selain pertimbangan usianya yang tidak bertahan lama.

Dalam pidatonya di halaman Masjid Baiturrahman ketika menanam pohon geulumpang tersebut, Kolonel Eeldert Christiaan van Daalen menyebutkan beberapa alasan di atas untuk mengenang jasa-jasa Jenderal Köhler. Dia berharap, pohon yang disebutnya sebagai Köhlerboom, mencerminkan sikap patriotik Jenderal Köhler dan bisa tumbuh melebihi 54 tahun, usia hidup sang Jenderal. “Fisiknya boleh pergi, tetapi sikap patriotiknya akan terus kita kenang.”

KOLONEL Eeldert Christiaan van Daalen pun tidak pernah berpikir bahwa pohon geulumpang itu mampu melampaui usia Jenderal Köhler bahkan usia rata-rata manusia. Lebih dari seratus tahun kemudian, pohon geulumpang itu masih berdiri tegak. Sudah tidak terhitung orang yang berdiri di bawah pohon itu, baik yang paham sejarah kematian Köhler atau tidak. Banyak pengunjung memilih berdiri di bawah pohon itu untuk mengabadikan kehadirannya di Masjid Baiturrahman. Tentu saja dengan latar kubah-kubah masjid yang menjulang di belakang kepala mereka.

Ketika gubernur setempat membangun sebuah prasasti di bawah Pohon Köhler, tempat itu semakin menjadi pembicaraan dan menjadi tempat yang paling bersejarah, melengkapi berbagai kisah lain yang terjadi di sekitarnya, terutama keberadaan Masjid Baiturrahman yang sudah megah sejak zaman dulu.

Begitu megahnya masjid tersebut, Köhler yang sudah mengumpulkan berbagai informasi militer, menyusun strategi sederhana untuk menguasai tempat itu dengan membangun pangkalan militer di seputar muara sungai. Dari sanalah ia akan menguasai Istana Sultan dan menguasai ibu kota kerajaan. Kalau ibu kota sudah dikuasai, maka akan mudah melebarkan daerah kekuasaan.

Namun, Köhler harus kecewa dengan akurasi laporan yang diterimanya. Setelah menyerang dan banyak anak buahnya yang gugur, mereka memang berhasil menguasai bangunan paling megah yang ada. Tapi belakangan diketahui ternyata bangunan itu bukan Istana Sultan, melainkan Masjid Baiturrahman.

Sebagai panglima perang, Köhler merasa terkecoh karena keliru mengenali bangunan. Mereka mendapatkan amarah penduduk lokal karena merasa terhina setelah tempat ibadah mereka diserang dan dihancurkan. Kejadian itu telah membakar semangat tempur penduduk dan mereka tidak gentar menghadapi bedil. Köhler dan pasukannya telah membakar semangat juang musuh, kehilangan anak buah dalam jumlah besar, dan Istana Sultan masih tegak berdiri. Itulah kerugian yang berlipat yang dialami Köhler dalam ekspedisinya pertama bersama 3.000 anak buahnya.

Dengan sejarah kekeliruan itulah mereka berusaha melanjutkan perjuangan. Mereka yang sempat mundur dari Masjid Baiturrahman, kembali lagi dan bisa menguasai bangunan itu dalam empat hari pertempuran yang melelahkan. Tetapi Kerajaan Belanda kehilangan tak kurang dari 2.000 prajurit dan salah satu panglima perang terbaik di Hindia Belanda, Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler, yang menjadi satu-satunya jenderal yang mati selama pendudukan di Hindia Belanda.

Jasad Jenderal Köhler kemudian dibawa ke Batavia melalui Singapura dengan kapal uap Koning der Nederlanden. Pemerintah Hindia Belanda sempat merencanakan membawa jenazah Köhler ke Belanda, tetapi membutuhkan waktu lama untuk menunggu kapal dan di tengah situasi perang, memulangkan jenazah terkadang jauh lebih sulit dibandingkan dengan peperangan itu sendiri. Bahkan untuk membawa keranda Köhler ke Batavia, harus jalan-jalan dulu ke Singapura.

Di Batavia, Köhler dimakamkan secara militer. Banyak yang menduga riwayatnya akan berakhir di pemakaman Tanah Abang dan hanya dikenang dalam upacara tertentu, itu pun kalau Pemerintah Hindia Belanda masih mampu bertahan di tanah pendudukan. Barangkali keturunan Köhler akan ziarah ke sana, atau ziarah bukan bagian dari budaya mereka.

Tapi Köhler dibuat tidak tenang bahkan sampai di kuburnya setelah penembakan memalukan di halaman Masjid Baiturrahman. Bumi Batavia seperti tidak ramah terhadap jasad Köhler. Pembangunan Batavia membuat pemakaman Tanah Abang digusur dan Köhler pun pindah ke Kedutaan Belanda, tepat 103 tahun setelah kematiannya yang semakin jarang dibicarakan orang. Orang menganggap tidak ada lagi yang berani mengusik Köhler dalam peristirahatan yang terakhir di Kedutaan.

Ternyata kerangka Köhler hanya dua tahun berdiam di sana. Arwahnya terus berjuang untuk mencari cara kembali ke tanah yang pernah menampung tumpahan darahnya. Dia kembali ke pemakaman Kerkhoff di Banda Aceh, berkumpul kembali dengan dua ribuan anak buahnya yang meninggal dalam peperangan di Tanah Rencong.

Betapa panjang perjalanan arwah Köhler untuk bisa memimpin kembali pasukannya meski kali ini di alam kubur. Lebih dari seratus lima tahun yang lalu dia memimpin pasukannya merebut Masjid Baiturrahman dan kemudian dia memimpin kembali pasukannya di tanah pemakanan yang di atasnya tumbuh rumput-rumput hijau, serupa daun-daun kepuh yang tumbuh di halaman Masjid Baiturrahman.[]

0Shares