Adventure FEATURE Knowledge Sharing Sosial Budaya

Mugee Uteun

0Shares

Di era 90-an Mugee Eungkot termasuk yang sangat familiar dikenal oleh generasi saya. Beberapa pedagang ikan dari kawasan Idi, Aceh Timur dan Bireuen adalah mereka yang mengangkut ikan menggunakan sepeda motor hingga ke Takengon, Aceh Tengah.

Mugee adalah istilah bagi penggalas atau lebih dikenal sebagai penjaja dagangan keliling. Salah satu pekerjaan yang digeluti dan mudah ditemui serta dikenal oleh berbagai lapisan masyarakat Aceh, diketahui pula sudah ada semenjak dulu.

Ada beragam istilah bagi mereka Mugee dengan segala bentuk barang dagangannya. Biasanya mereka menggunakan sepeda motor dan diberi keranjang rotan dibelakang untuk mengangkut berbagai jenis muatan yang diperjualbelikan.

Di pedalaman Aceh ada istilah bagi mereka itu semisal; Mugee Pisang, Mugee Pineung (Pinang), Mugee Coklat, bahkan di Pidie ada istilah bagi mereka Mugee Boh Mulieng–para pengepul buah meulinjoe sebagai bahan baku pembuatan kerupuk.

Bagi mereka masyarakat pesisir lain lagi, mereka yang bekerja sebagai Mugee identik dengan sebutan Mugee Eungkot (ikan) dan Mugee Sira (garam).

Di era 90-an Mugee Eungkot termasuk yang sangat familiar dikenal oleh generasi saya. Beberapa pedagang ikan dari kawasan Idi, Aceh Timur dan Bireuen adalah mereka yang mengangkut ikan menggunakan sepeda motor hingga ke Takengon, Aceh Tengah.

Biasanya mereka membawa muatan jenis ikan Bandeng dan Tongkol, mengingat waktu itu Bandeng merupakan salah satu produksi ikan air tawar yang sangat diminati juga memiliki sumber yang melimpah di pesisir Utara dan Timur Aceh.

Suara knalpot para Mugee Eungkot yang blong tanpa peredam itu sudah ditandai warga dari kejauhan bila akan melintas, biasanya mereka beriringan, ada beberapa motor saling adu salip dengan muatan dan beban yang berlebih. Tak ayal aksi mereka itu di jalanan bak menonton balapan. Wajar, mereka memburu waktu, bila tak terkejar–perjalanan jauh itu akan melelehkan es batu yang ditaburi diantara ikan-ikan dalam keranjang mereka serta membuat ikan tak segar lagi.

Seiring berjalannya waktu, Mugee Eungkot pun beralih ke jenis kendaraan yang lebih safety. Roda empat menjadi andalan mereka saat ini. Generasi milenial kini tentu tak sempat mengenal dan bayangkan para pria berjaket tebal, celana jeans, sepatu boots serta sabo menutupi wajah mereka dari terpaan angin saat memacu kendaraannya.

Di era Aceh kontemporer, tidak semua pekerjaan Mugee tergilas zaman meski kendaraan yang lebih praktis hadir pada masanya. Kini ada istilah baru bagi penggalas ini. Mugee Uteuen, mereka adalah para penjaja dagangan keliling yang keluar masuk Gampong dengan beragam jenis dagangan bahan dapur mengisi keranjang di belakang motor mereka.

Kehadiran mereka dapat dipastikan sangat membantu aksebilitas warga yang hendak membeli kebutuhan dapur sehari-hari. Tidak hanya sayuran, mereka juga membawa ikan, hingga ke penganan tahu dan tempe pun ada untuk diperjual belikan di perkampungan–masuk satu lorong keluar lorong lainnya. Cukup menanti kehadiran mereka di depan rumah, sejumlah warga sudah dapat berbelanja tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra untuk menuju ke pasar.

Mugee Uteuen telah kembali menghidupkan khazanah sosial budaya peradaban Mugee yang mulai tergilas zaman. Meski tak memiliki knalpot blong tanpa peredam yang membisingkan telinga laiknya Mugee Eungkot yang pernah dikenal dulu. Mugee Uteuen memiliki pertanda khas bila mereka sudah mendekat ke hadapan–Eungkot..kot..kot..kot–begitulah cara mereka menjajakan dagangannya dari satu kampung ke kampung lainnya.[]

Foto: Suryadi Kawom

0Shares