Fiksi Sosial Budaya

Belajar dari ‘Pak Abu’

0Shares

Cerpen

Oleh Lisa Ulfa*

Asap mengepul dari kopi yang baru saja disuguhkan oleh seorang lelaki paruh baya berkulit sawo matang.

“Pelayan!,”

Aih.. rasanya tidak cocok jika gelar itu dipakai pada seorang penjaga warung kopi di kampung-kampung. Bagi masyarakat kelas bawah tidak ada yang namanya pelayan meskipun setiap hari mereka memperlakukan pelanggan dengan baik dan penuh keramah-tamahan. Tapi namanya tetap bukan pelayan. Dan jangan sekali-kali memanggil mereka dengan sebutan pelayan. Karena itu bisa membuatmu tidak lagi bisa merasakan kopi racikannya.

Aromanya begitu khas, tidak akan susah menebak kopi apa yang mengepulkan asap itu; Ulee Kareng, jenis kopi kesukaan Pak Abu.

Selain rasanya yang cocok di lidah masyarakat Aceh, kopi yang satu ini juga sangat membutuhkan kesabaran saat mencicipinya. Tidak bisa langsung diminum tapi harus menunggu sampai bubuknya terlebih dulu turun ke dasar gelas.

Jelas Pak Abu panjang lebar jika ditanyai alasan dirinya menyukai minuman berkafein yang satu itu.

Dari layar TV yang terletak di sudut ruangan, Nampak seorang wanita muda berparas cantik sedang membawakan berita.

Dari caranya berbicara orang-orang akan langsung tahu kalau perempuan itu sudah menghabiskan bertahun-tahun masa untuk melatih dirinya berbicara.

Mungkin mata dan anggota wajah lainnya juga berbicara dengan bahasa masing-masing.

Batin Pak Abu saat menikmati wanita muda itu berbicara dengan sangat jelas. Ciri khas seorang Presenter.

Setelah menyeruput kopi pesanannya, Pak Abu mulai membuka percakapan dengan seorang pemuda yang duduk tidak jauh darinya.

“Apa pendapatmu tentang keputusan Presiden memindahkan Ibukota, Baka?”

Baka yang sebelumnya sibuk memainkan gawai mengalihkan pandangan ke Pak Abu.

“itu keputusan yang paling konyol yang pernah kulihat!

Belum ada dalam sejarah Negeri ini Presiden memindahkan Ibukota sesuka hati. Bukankah ini ide gila, Pak Abu?”

Tentang Baka dengan wajah yang sedikit memerah karena marah, entah kenapa pula.

Pak Abu hanya mengangguk-angguk tidak membenarkan tidak pula membantah pemuda berwajah tampan itu.

“apa kau tahu Ibukota Turki, Baka?”

“Tentu. Ankara, Bukan?”

Timpal Baka.

“Ya … dan sebelumnya Instanbul”

Sambung Pak Abu setelah menyesap kereteknya yang tinggal setengah.

“Apa kau tidak suka Ibukota berpindah, Baka?”

lagi Pak Abu mengajukan pertanyaannya.

“Bahkan dari dulu aku sudah tidak menyukainya, tidak pula memilihnya.”

“Pemimpin sekarang?”

“He’eum”

“hehe ….”

Pak Abu terkekeh.

“kenapa tertawa, ada yang lucu?”

Tanya Baka dengan kening berkerut.

“Tentu saja. hal yang paling lucu adalah membenci orang lain, membenci dengan kebencian yang amat besar.

Disaat hati sudah membenci apapun yang orang lain perbuat akan selalu salah. Bahkan saat ia tersenyum, menyapa, bersedekah semuanya juga salah. Kenapa?. Sebab kita sudah membenci.

Kau tahu Baka?, terkadang Allah sangat mendukung keputusan seseorang dan mempermudah urusannya.”

“Tapi yang ia lakukan kini bukanlah sesuatu yang bermanfaat bagi umat.”

Sanggah Baka.

Pak Abu meneguk sisa kopi terakhirnya, memperbaiki posisi duduk dan kembali melanjutkan.

”manusia itu punya pandangan yang berbeda-beda, pemikiran yang berbeda-beda. Maka saat menilai sesuatu ada yang benar penilaiannya ada pula yang salah. Tapi menyalahkan orang lain sebelum melihat kesalahan yang ia perbuat adalah kesalahan yag paling besar. Tidak terburu-buru dalam memberi penilaian saya rasa lebih baik apalagi menyangkut hubungan dengan manusia.”

Baka menatap kagum lelaki tua di hadapannya itu. Jauh di lubuk hatinya, Ia merasa semua ketidaksukaannya itu berasal dari rasa benci. Benci yang disebabkan oleh entah.

“Apa kau akan menunggu azan dzuhur di kedai ini, Baka?”

Pertanyaan itu sontak menyadarkan Baka dari lamunannya.

“oh tidak Pak Abu. Sebentar lagi saya juga harus pulang, sapi-sapi dalam weue belum saya lepaskan.”

Jawab Baka sambil tersenyum.

“Baiklah anak muda kalau begitu saya permisi terlebih dulu.”

Setelah menepuk pundak Baka beberapa kali, Pak Abu berjalan ke luar meninggalkan Baka yang terkagum-kagum dengan kewibawaannya.

*) Alumni Jurusan Aqidah Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry.

0Shares