AKALSEHAT Sosial Budaya

Tak Safety Riding, Mobil Pikap Bukan untuk Mobilitas Orang

0Shares

ANews– Sudah beberapa tragedi kecelakaan terjadi yang melibatkan kendaraan pikap yang memobilisasi orang, setidaknya rekam media menampilkan beberapa kejadian malang bagi pengendara mobil pikap ini. Dulu memang benar, jika pikap menjadi salah satu andalan mobiler rakyat yang efisiensi biaya maupun mampu memobilisasi lebih dari 15 penumpang, bahkan sempat menjadi salah satu transportasi umum menembus batas gampong di jalan-jalan lintas kecamatan.

Dulu kondisi ini masih relevan dengan kondisi jalan yang masih belum tersentuh infrastuktur, belum semua warga memiliki mobilitas yang memadai. Dewasa ini jalan lintas nasional tidak tepat bagi pikap untuk memobilisasi orang, dikarenakan kendaraan yang melalui lintas nasional ini beragam jenis dengan kecepatan di atas laju maksimal.

Zaman semakin berubah, jalanan sudah sangat ramai, jumlah kendaraan di Aceh setiap tahunnya semakin bertambah, di tahun 2016 saja kendaraan bertambah mencapai 113.206 unit di Aceh, dan ini berdasarkan data Dinas Pendapatan dan Kekayaan Provinsi Aceh, yang mana ditahun sebelumnya kendaraan hanya bertambah mencapai 109.064 unit, Artinya ada penambahan jumlah kendaraan secara signifikan setiap tahunnya di provinsi Aceh.

Jalan nasional lalu lintasnya semakin padat, apalagi di saat masih dalam suasana lebaran, bukan hanya jenis minibus pikap, yang lebih fantastis lagi sejenis dumtruck juga ambil bahagian untuk memobilisasi orang di masa liburan ini. Beberapa kecelakaan sebelumnya terjadi pada kendaraan jenis pikap yang memobilisasi orang rata-rata berujung tragis dan menyimpan rasa trauma mendalam.

Baru-baru ini sebuah pickap dikabarkan menabrak Kedai warga serta sebatang pohon rambutan, kecelakaan maut tersebut terjadi di lintas nasional Medan-Banda Aceh, kawasan Desa Blang Kubu, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Aceh, Minggu (11/8/2019) sore.

Satu rombongan yang juga satu keluarga asal Desa Meunasah Reudeup, Kecamatan Pandrah, Kabupaten Bireuen, Aceh, dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) Puskesmas Peudada sore itu juga.

Satu keluarga tersebut mengalami luka-luka akibat mobil pikap Suzuki Carry yang ditumpangi mereka menabrak warung kelontong dan pohon rambutan.

Suzuki Carry Pikap BL 8447 DC yang mengalami kecelakaan tunggal itu disopiri Irawan, warga Meunasah Reudeup, Pandrah. Dikabarkan Ia mengalami luka parah dan patah-patah. Sedangkan keluarganya dan penumpang lainnya, seluruhnya berada di bak belakang merasa sangat trauma dengan kejadian itu.

Tentu dapat anda bayangkan bagaimana rasa trauma yang dirasakan para penumpang yang duduk di belakang, apalagi dikabarkan terdapat sejumlah bocah dalam kendaraan tersebut. mobil bak terbuka ini sangat tidak aman dijadikan sebagai moda transpotasi yang sering digunakan untuk mengangkut rombongan dalam kapasitas melebihi jumlah penumpang dan tonase, sedangkan safety ridingnya jelas tidak ada.

Sejatinya pikap hadir untuk memudahkan mobilitas barang warga, jelas mobil ini diperuntukan sebagai kendaraan membawa barang, dengan jumlah penumpang maksimal 3 orang untuk duduk di kursi depan. Aturan itu sudah jelas tertera di daya angkut kendaraan pada lembaran biru yang dikeluarkan oleh Dinas Perhubungan dan ditempelkan di badan kendaraan.

Seharusnya bagi warga Aceh, Kota Medan, provinsi Sumatera Utara dapat dijadikan sebagai acuan kedisiplinan dalam berkendara. Melintasi perbatasan Aceh-Sumut anda tidak menemukan mobil pikap dijadikan moda tranportasi bagi warga, ketegasan ini sebenarnya dapat ditiru oleh pihak Polda Aceh untuk menegakkan kedisiplinan berlalu-lintas di jalan lintas nasional. Khususnya bagi kendaraan pikap yang memobilisasi orang. Tentu dengan tegaknya aturan main bagi warga yang nekat mengendarai pikap agar ditilang saja, dengan harapan semua itu demi keselamatan nyawa manusia, karena mobil pikap diproduksi untuk mobilitas barang, bukan untuk mobilitas orang.[]

0Shares