FEATURE Knowledge Sharing OPINI Sosial Budaya

Majalah Sastra di Era Digital

0Shares

Oleh Ayi Jufridar*

Judul di atas mengadopsi postingan Kurnia Effendi di Facebook ketika menjadi pemateri dalam Jogyakarta International Literary Festival (Joglisfet) di Jogyakarta, 26 – 30 September 2019 lalu. Kurnia Effendi yang akrab disapa Keff, bersama empat rekannya melahirkan Majas, majalah sastra dan gaya hidup di tengah banyak majalah lain berguguran distrupsi teknologi digital.

Banyak yang meragukan majalah—apalagi majalah sastra—akan bisa survive di tengah gempuran teknologi media online. Membeli majalah dianggap sudah menjadi bagian masa lalu. Banyak majalah tewas ditinggal pembaca, termasuk majalah gaya hidup yang biasanya juga memuat karya fiksi seperti cerpen dan cerita bersambung.

Saya termasuk generasi penulis yang membangun karier di majalah. Karya pertama saya dimuat di majalah Aneka Yess, kalau tak salah pada tahun 1992 (saya punya dokumentasinya tetapi ketika menulis ini di kantor, dokumentasinya ada di rumah). Aneka Yess adalah sebuah majalah remaja di Indonesia yang banyak melahirkan model sampul yang kini menjadi pesohor di Indonesia, selain banyak penulis yang berkarier di sana. Pada awalnya, majalah itu bernama Aneka Ria dan kemudian berubah menjadi Aneka Yess!.

Tapi cerpen terbanyak saya dimuat di majalah Anita Cemerlang, majalah fiksi remaja yang banyak melahirkan penulis. Kurnia Effendi melahirkan Majas bersama para penulis alumni Anita; Kurniawan Junaedhie, Ana Mustaminl, dan Agnes Majestika. Seorang lagi adalah Valent Mustamin, seorang tenaga profesional di bidang teknologi informatika.

Kurnia Effendi diudang untuk mempresentasikan majalah sastra dan gaya hidup Majas dalam acara Joglitfest 2019. Dia tampil di panggung di Museum Vredeburg Jogya pada 29 September 2019 pukul 14.00 WIB. Di panggung sama, satu jam sebelumnya saya dan penulis dari Papua, Gody Usnaat, baru saya menyelesaikan bedah buku “Menyemai Anggrek Setan” karya Charles Dickens dkk.

Dalam forum tersebut, Kurnia Effendi mengakui ada perbenturan tajam antara “passion merayakan romantisme” dan tantangan “teknologi digital” yang lari kencang membawa serta materi literasi meninggalkan zaman media cetak yang berwujud fisik.

Media cetak menanggung beban seperti (1) Berbiaya tinggi mulai dari produksi, distribusi, hingga pembayaran honorarium para penulis; (2) Siapa para pembaca media cetak di saat gelombang generasi milenial sudah berbeda cara dan fanatik terhadap smartphone dan internet?

Namun, Kurnia Effendi mengaku terperangah oleh minimal dua kenyataan yang masih berkembang saat ini.

Media sosial, terutama facebook, pada hari Sabtu dan Minggu akan dipenuhi foto-foto koran atau majalah yang memuat karya para penulis (terutama generasi milenial). Itu semacam tanda bahwa sekalipun mereka memiliki mazhab pembaca online, ternyata merasa bangga ketika karyanya (puisi, cerpen, esai) dimuat media cetak fisikal sehingga perlu pamer.

Ambiguitas apa gerangan yang sedang melanda jiwa mereka? Penulis senior mungkin sudah biasa dimuat seperti itu, malah bosan memamerkannya.
Seorang pesohor milenial, Marchela Fp, yang membuat cerita instagram dengan pengikut ribuan orang, ternyata perlu juga menerbitkan quote-quote dan fiksinya menjadi buku yang bisa dipegang.

Bahkan, pemesanan sebelum tanggal terbitnya mencapai cetakan ke-11. Apa para penggemarnya tidak cukup dengan membaca melalui HP atau e-book? Pesohor sebelumnya pun melewati hal yang sama: Raditya Dika, yang kemudian mengembangkannya tak sebatas bacaan, tetapi juga film.

Kurnia Effendi juga mengungkapkan hasil perbincangannya dengan beberapa penerbit major di Indonesia. Para penerbit major tersebut mengakui keuntungan penjualan e-book belum seberapa dibanding penjualan buku secara fisik.

Kenyataan di atas tidak serta merta akan menjamin Majas akan berumur panjang. Dalam perbincangan secara personal dengan saya, hal itu disadari oleh Kurnia Effendi dkk. Mereka pun menyiapkan strategi marketing yang berpotensi mengikat pembaca dan membangun rasa kepemilikan. Setiap pembaca yang membeli empat edisi sekaligus, akan mendapatkan saham dari Majas.

Uniknya, satu orang hanya bisa mendapatkan satu lembar saham meski sang pembaca (baca: investor) memiliki banyak uang. Dengan sistem seperti ini, tidak ada pemilik mayoritas saham di Majas.

Selain dari oplah, untuk menjamin biaya produksi,menurut saya Majas juga harus mendapatkan iklan, terutama iklan budaya yang belakangan semakin banyak digelar di Indonesia. Pemasang iklan dari komersial tentu mempertibangkan oplah dan jumlah pembaca dan aspek lain ketika memutuskan untuk memasang iklan. Namun, iklan dari lembaga kebudayaan tidak 100 persen menggunakan pertimbangan bisnis.

Sejauh ini, Majas sudah mendapatkan iklan untuk beberapa edisi. Kabarnya sampai awal 2020 mendatang, Majas sudah mendapatkan kontrak iklan dengan beberapa bank terkemuka di Indonesia.

Selain itu, karena muatan pendidikan banyak dalam konten Majas, majalah ini harusnya berada di perpustakaan di SMA dan perguruan tinggi di seluruh Indonesia. Dengan strategi demikian, Majas akan terus hadir dengan karya sastra berkualitas.

*) Dosen FEB Unimal, juga bekerja sebagai jurnalis dan penulis fiksi. Novelnya yang sudah terbit, Alon Buluek (2005), Kabut Perang (2010), Putroe Neng (2011), dan 693 KM Jejak Gerilya Sudirman (2015). Turut hadiri seminar Jogyakarta International Literary Festival (Joglisfest) di Jogyakarta, 26 – 30 September 2019 lalu.

0Shares