OPINI

Panglima Bersenapan Panci

0Shares

Refleksi 14 Tahun Perdamaian RI-GAM
Oleh Fauzan Azima*

Wali Neugara Teungku Muhammad Hasan di Tiro mengatakan “Carilah pangkat di bumi Aceh.” Kalimat tersebut adalah jawaban kepada orang-orang yang meminta jabatan dalam struktur perjuangan GAM, sementara mereka belum berbuat apapun di tanah kelahirannya.

Wali benar! Lapangan yang menentukan “right man in the right place” setelah “test case” untuk menduduki jabatan dan pangkat apa yang diterimanya. Pendidikan formal tentu tidak mengajarkan Ideologi perjuangan GAM, karenanya aktivis harus “pandai-pandailah merayu” masyarakat supaya percaya bahwa gerakan ini bukan gerakan sparatis, tetapi menuntut hak Aceh sebagai sebuah negeri yang berdaulat.

Tidak mudah mendapatkan dukungan masyarakat, terutama di Wilayah Linge karena sejak diberlakukan DOM masyarakat sudah mulai trauma dengan kekerasan. Ibu-ibu terpaksa menjadi “single parent” dalam menghidupi anak-anaknya. Para remaja harus meninggalkan kampung halamannya yang tercinta untuk keselamatan dirinya dan kaum ayah harus rela tidur di pos ronda.

Kebangkitan Perjuangan GAM awal 1998 karena situasi gonjang ganjing di Jakarta. Presiden Soeharto jatuh setelah 32 tahun berkuasa yang dipicu oleh demonstasi mahasiswa. Militer di daerah-daerah kehilangan komando, sehingga menjadi angin segar bagi pejuang kemerdekaan, seperti Aceh, Papua, Timor Timur, Maluku, bahkan Riau.

Para pejuang yang semula lari ke luar Aceh mulai berdatangan kembali; ada yang langsung naik gunung, ada yang bermain senyap lewat LSM dan bahkan menyusup dalam pemerintahan. Tujuannya adalah mewujudkan ajaran Wali bahwa di samping perang senjata, ada perang ekonomi, perang diplomasi luar negeri dan perang politik.

Sejauh itu tidak kurang dari orang Aceh sendiri yang apatis terhadap apa yang terjadi di lingkungannya. Manusiawi memang! Setiap orang ingin dapat jatah “baju baru” tetapi hampir tidak ada yang sukarela menghuni “kuburan baru.” Sikap itu adalah soal “gen darah” yang tidak bisa berbohong; darah apatis dan darah pejuang seperti minyak dengan air tidak akan bercampur.

Perumpamaan perang seperti memasak nasi kenduri; masing-masing punya sumbangan. Ada yang menyediakan beras, meminjamkan priok untuk wadah memasak, mencari kayu bakar, menyalakan api dengan korek, menanak nasi dan setelah matang lalu dihidangkan untuk dinikmati bersama.

Sayangnya ada sekelompok orang yang tidak berkonstribusi sama sekali dalam proses memasak nasi, namun sebelum dihidangkan sudah membawa panci karena menganggap atas usahanyalah nasi bisa dinikmati, sehingga porsi nasi untuknya harus lebih banyak. Bagi mereka inilah pantas disebut sebagai “Panglima bersenapan panci.”

Faktanya banyak kelakukan orang seperti itu karena kemampuannya membangun alibi, seolah di mana terjadi perang, mereka juga hadir di sana. Di Wilayah Linge linge tidak dipercayai mereka lalu pergi ke Wilayah Pasee, tidak dipercaya di Wilayah Pasee mereka hijrah ke Wilayah Bateilek dan seterusnya sampai usahanya berhasil mendiclare diri sebagai panglima.

Mereka juga tidak segan mengaku-ngaku dan mengikrarkan sedarah dengan Wali Hasan Tiro dan tokoh-tokoh lainnya serta berasal dari daerah-daerah basis GAM dan tanpa malu merubah namanya atau panggilan dengan sandi panglima-panglima atau tokoh-tokoh GAM yang pemberani dan ditakuti oleh kawan maupun lawan.

Pada saat perjanjian damai RI-GAM ditandatangani pada 15 agustus 2005 kelompok ini muncul seperti jamur di musim hujan merebut peluang kekuasaan dan uang. Mereka juga yang “peu GAM-GAM droe” dengan membawa-bawa “panci” ke setiap dinas minta jatah atas nama perjuangan sehingga merusak sistem pemerintahan bersih dari korupsi.

*)Penulis adalah Mantan Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) Wilayah Linge

0Shares