OPINI Sosial Budaya

Usai Lebaran, Kembali ke Musim ‘Seumula’

0Shares

Oleh M. Yasir, ST*

Terkesan singkat, momentum anjangsana di hari lebaran Idul Adha sebentar lagi usai. Setelah bakda shalat Ied kemarin, warga mulai disibukkan dengan beragam kegiatan serta kepanitiaan penyembelihan kurban.

Hanya menyisakan satu hari masa libur, keesokan harinya sebahagian karyawan sudah akan mulai memasuki jadwal jam kerja seperti hari biasanya.

Pulang ke kampung halaman, suasana terlihat sedikit berbeda. Semenjak sore hari kemarin sebahagian kecil warga, mayoritas kaum ibu mulai disibukkan dengan kegiatan melihat air di sawah. Petani di daerah saya saat ini sedang terlihat sibuk sekali, mereka sedang mengerjakan tanam di musim Seumula (musim tanam,red).

Petani desa kali ini dihadapkan dengan cuaca yang lumayan ekstrim, angin dan hujan lebat melanda sebahagian pesisir Utara Aceh. Kecamatan Kuta Makmur adalah salah satu kawasan pertanian yang sering direndam banjir bila intensitas hujan sedikit lebih tinggi, tak jarang krueng Buloh acap kali dapat mendera warga hingga gagal panen bila banjir menghadang.

Namun mereka tidak terlihat was-was akan hal itu, bagaimanapun musim tanam harus segera dikerjakan, agar masa waktu panen sesuai dengan apa yang sudah direncanakan.

Di daerah saya itu meski mayoritas warga adalah petani, mereka masih tertinggal dari segi tekhnologi agricultural. Bila dibandingkan beberapa negara di Asia yang memiliki komoditas dan hasil gabahnya yang berlimpah–seperti Thailand dan Vietnam–sudah melakukan berbagai kemajuan di bidang pertaniannya.

Aceh memiliki luas sawah sekitar 307.234 Ha (sumber:Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh pada tahun 2017), dan ini merupakan hampir dari seluruh sawah yang ada di provinsi Aceh. Dengan luas areal sawah yang ada, sudah tentu seharusnya petani di Aceh dilengkapi alat tanam yang lebih modern untuk membantu permudahkan kerja petani.

Namun, pro dan kontra pasti akan datang ditengah masyarakat, ketika tekhnologi hadir menggantikan peranan cara tanam tradisional (tenaga manusia) yang merupakan salah satu sumber mata pencaharian mayoritas masyarakat, tekhnologi telah membuat mereka tidak lagi memiliki pekerjaan di masa musim tanam maupun panen tiba misalnya.

Secara tidak langsung, Hal ini sudah dan sedang terjadi, kini ketika musim panen tiba, sebahagian petani di Aceh sudah menggunakan jasa mesin pemotong padi modern di beberapa wilayah. Namun tidak dipungkiri ada juga yang masih mempertahankan cara tradisional dengan alasan untuk keberlangsungan hajat orang ramai dilingkungan para petani bila musim panen tiba.

Meskipun, dari segi waktu dan tenaga
sebenarnya menggunakan mesin pemotong bertekhnologi lebih efisien.

Untuk musim tanam, di kampung halaman saya ini petani masih sangat mengandalkan tenaga manusia (tanam secara tradisional), penanaman yang dilakukan secara bersamaan ini menjadi pekerjaan bagi warga sekitar di masa musim tanam tiba.

Alasan mereka masih menjadikan cara tradisional sebagai metode tanam dikarenakan ini merupakan kearifan lokal bagi warga agar mendapatkan pekerjaan di musim tanam. Nah, kalau menggunakan tekhnologi mesin nantinya dikhawatirkan warga tidak lagi memiliki perkerjaan sebagai salah satu aktif income bagi mereka di musim Seumula.

Upah tanam padi secara tradisional masih terbilang relatif murah, namun inilah mata pencaharian warga berkah dari para petani. Perhari mereka di upah dengan kisaran Rp50000 hingga Rp60000,-. Meskipun nominalnya terbilang kecil, mereka menjadikannya tabungan selama berhari-hari berada di sawah pada musim tanam. Atas dasar pertimbangan tersebut maka tekhnologi untuk menaman padi secara modern belum bisa diimplementasikan di daerah saya.

Sebelumnya, problema yang telah hadir ditengah masyarakat petani adalah mereka mengeluhkan tekhnologi pemotongan padi yang telah masuk kebeberapa daerah, termasuk sebahagian di kampung saya juga. Tidak sedikit dari warga kehilangan pekerjaan ketika musim panen tiba, dan perihnya, tekhnologi hanya menguntungkan pihak yang memiliki mesin pemotong padi secara modern yang notabene didatangkan dari luar daerah. Sedangkan warga tidak lagi memiliki pemasukan di masa musim panen tiba, secara tidak langsung ekonomi kerakyatan terpotong oleh moderenisasi zaman.

Sebelum tekhnologi mesin pemotong padi masuk, warga di perkampungan tampak masih sangat makmur kehidupannya bila musim panen tiba. Warung kopi, pekan desa, pasar dan ibu-ibu mayoritas tenaga pemotong padi secara tradisional memiliki aktivitas saling berketergantungan secara distribusi rantai perekonomian.

Pemilik warung kopi misalkan, omsetnya bertambah dibanding hari biasanya, dikarenakan warga saat musim panen mereka rata-rata membawa bekal kopi dan sekantong plastik kue kampung dari warung untuk dinikmati saat jam istirahat di pematang sawah. Begitu pula suasana di pasar, ada perputaran ekonomi di kampung saya saat musim panen tiba.

Banyak tenaga terlibat disana, mulai dari jasa untuk memotong padi, merontokkan gabah, serta mengangkutnya di pundak dari areal persawahan hingga ke tepi jalan juga menggunakan jasa warga, namun kini pekerjaan itu telah lenyap, dan tergantikan oleh mesin pemotong modern.

Pengalaman telah mengajarkan warga, sebab itu pula warga di kampung halaman saya kembali ke musim Seumula usai lebaran nanti masih secara tradisional. Karena metode tradisional menanam padi adalah keberlangsungan ekonomi serta kesejahteraan merata warga ketika musim tanam tiba, meskipun upah yang diterima tidak seberapa.[]

*) Penulis adalah Pimred Aceh.News, serta juga aktif di berbagai kegiatan Sosial dan Budaya Kabupaten Aceh Utara dan Kota Lhokseumawe.

0Shares